Aku
mendekap bundelan tebal di dadaku, menyusuri koridor sepanjang gedung E—gedung
fakultasku. Melihat sekeliling sepertinya hanya aku yang masih berkeliaran di
area ini. Satu manusia yang sempat kulihat hanyalah Pak Mul—tukang sapu dan
juru kunci gedung E. Entah jika ada makhluk yang lain, tidak peduli mereka
siapa atau apa, mengingat gedung E termasuk gedung yang cukup tua di kampus
ini.
Aku
berjalan terus, tidak menoleh ke arah mana pun. Dari luar aku terlihat biasa
saja, hanya saja rasa takut akan penampakan macam-macam sudah menjalari
bulu-bulu kuduk. Ngeri.
Ujung
koridor ini membawaku pada pintu keluar. Aku tetap berjalan keluar dari gedung
E. Pendopo yang biasanya ditempati anak-anak jurusan Seni Musik atau mungkin
Seni Rupa—aku tidak terlalu peduli—kini terlihat lenggang. Tidak ada anak-anak
dengan rambut gondrong menutupi wajah dan anjing peliharaan mereka.
Aku
heran. Mereka itu menggeluti seni semacam apa sampai anjing pun ikut dibawa ke
kampus. Tidak mengerti.
Otakku
harus meracau untuk menghalangi rasa takut ini. Jam di pergelangan tanganku
sudah menunjukan pukul sembilan malam. Menyesal mengapa tadi terlalu terlena
saat membaca Anniversary Salad, sebuah judul buku Tawara Machi yang berisi Tanka
di perpustakaan Jurusan.
Kakiku
masih terus melangkah. Menjejaki teras-teras kampus, tidak bersuara, meracau
sambil berdoa. Satu hal yang ada di kepalaku saat ini adalah ingin segera
sampai di ruang BEM yang jaraknya sekitar lima meter lagi.
“Sakina.”
Suara
panggilan itu membuat jantungku berhenti berdetak. Aku memaki dan kakiku berhenti
melangkah.
Tidak
ada hantu. Hantu itu tidak ada. Kalau hantu itu benar ada, detik ini juga aku
harus berlari sejauh yang aku bisa.
“Sudah
larut, lo masih di kampus?” suara yang aku kenal. Suara Hakim. Teman sekelasku.
“Ih
kampret!” aku memakinya kesal.
“Lo
kaget, Kin?” ia bertanya sambil memamerkan gigi-giginya. Ingin rasanya kulempar
bundelan yang kudekap ini ke arahnya.
“Freak, cara lo sebut nama gue itu norak,
Kim!” semprotku kesal.
“Sorry, Kin. Gue hanya bermaksud menyapa,
tapi kelihatannya ada yang kaget begini,” ia terkekeh. Segera kulemparkan
bundelan yang kudekap sedari tadi ke arahnya.
Tepat.
Namun tangannya cekatan menangkap bundelan tebal itu. Kalau saja ia lengah,
kepalanya sudah pasti akan benjol.
“Buku
sakral nih Kin. Lo mau ke BEM?” tanya Hakim. Sambil menyodorkan bundelan tebal
itu padaku.
“Iya.
Lo? Main RO?” tanyaku.
Seakan
sudah tahu jawabannya. Aku segera meraih bundelan tebal yang masih berada di
tangan Hakim.
“Sampai
pagi lagi, Kim? Jangan lupa besok kuis dua bab dan deadline pengumpulan makalah Kesusastraan,” sahutku sambil melengos
pergi menuju ruang BEM yang letaknya sekitar lima meter lagi, tanpa menunggu
Hakim menjawab apa.
“Nanti
pulangnya sama gue, Kin. Lewat sini lagi, ya,” samar-samar kudengar suara Hakim
di antara derap langkah-langkah kecilku.
Benar.
Hakim Andrian. Teman yang kukenal di hari pertama masuk kuliah. Ia terlalu
mencolok diantara yang lainnya. Tidak bisa diam, suaranya keras, dan satu-satunya
manusia yang membuat origami sebelum
dosen masuk di hari pertama kuliah.
Sedikit
absurd. Namun ia sebenarnya memiliki
kepribadian yang baik. Ia adalah salah satu aktivis di kampus. Kesehariannya melakukan
mentoring dengan senior-senior. Main game RO sampai pagi di kampus. Kemudian
kembali ke kosnya dengan tampang seperti zombie.
Dan aku selalu tahu itu.
***
Selesai membicarakan seputar isi dari bundalan tebal
yang sedari tadi kudekap ini cukup membuatku mual.
Laporan Pertanggung Jawaban.
Bundelan tebal ini adalah LPJ kegiatan BEM jurusan
yang beberapa minggu lalu diadakan. Kegiatan festival kebudayaan yang menghabiskan
dana puluhan juta rupiah. Namaku tertera sebagai sekretaris dalam daftar
panitia. Maka, akulah yang dibebani tugas istimewa ini. Membuat Laporan Pertanggung
Jawaban. Membuat LPJ—yang tebalnya tiada tara itu.
Kini laporannya sudah selesai. Dan menyisakan
kantung mata setara panda padaku.
Maria—selaku ketua pelaksana—menandatangi
lembar-lembar yang kuberikan. Segera setelah Maria selesai, aku pamit pulang.
Maria dan teman-teman yang lain belum pulang. Masih mengerjakan tugas
Kesusastraan.
Tugasku sudah selesai. Maka kutinggalkan saja mereka.
Selagi aku mengikat tali sepatu di teras ruang BEM, Adit—si ketua
BEM—memanggilku. “Kin,”
“Apa?” jawabku seadanya.
“Lo
pulang sama siapa?” tanya Adit.
“Modus, Kin. Awas hati-hati,” kata Maria sambil
terkekeh.
“Sama Hakim. Kenapa Dit?” jawabku tanpa menggubris
kata-kata Maria.
“Duh, satu jurusan tahu, Kin. Lo sama Hakim itu lagi
deket,” Indira—si kaki tangan Adit—menimpali.
“Dan satu jurusan juga tahu kalau Adit lagi
ketar-ketir gara-gara itu,” kata Maria, lalu terkekeh lagi.
“Gosip. Selamat menyelesaikan makalah Kesusastraan
teman-teman. Gue pulang,” sebelum pergi aku menjitaki kepala mereka satu per
satu. Dasar tukang gosip.
Kemudian mereka meringis sambil mengumpatku. Aku
sudah berjalan menjauhi ruang BEM, melewati teras-teras kampus yang tadi
kulewati. Berjalan sekitar lima meter dari ruang BEM dan menangkap sosok itu di
sana.
Hakim masih duduk di pendopo jurusan Bahasa
Indonesia. Di tempat yang sama saat tadi ia kulempar dengan LPJ.
“Udah selesai?” tanyanya setelah sadar aku sudah
berdiri di dekatnya.
“Udah. Lo masih lama?” jawabku diiringi pertanyaan.
“Udah kok. Udah menang. Yuk,” Hakim menutup
laptopnya. Memasukkannya ke dalam ransel. Kemudian bangkit memimpinku di depan.
Kulihat punggungnya diterpa sinar lampu hias yang memanjang di sepanjang
pelataran Fakultas Ekonomi. Punggung yang selalu kupercaya untuk kuikuti.
Sampai saat ini bahkan aku tidak tahu alasannya.
“Anak-anak masih di BEM?” tanyanya di tengah
perjalanan. Memecah keheninganku. Tidak ada hiruk-pikuk mahasiswa yang
mengobrol, tidak ada deru kendaraan bermotor, dan tidak ada suara-suara bising
lainnya. Hanya ada suara serangga malam.
“Masih, masih pada sibuk sama Kesusastraan. Lo udah
selesai?” tanyaku.
“Udah, tinggal bikin covernya. Lo? Dapat apa di perpustakaan jurusan?” Hakim menjawab,
kemudian memberiku pertanyaan.
“Dapat sesuatu,” aku merogoh tas yang kugantung di
lengan kiriku. Cukup sulit menemukannya di dalam tas yang sudah dijejali
benda-benda milikku. Langkahku terhenti karena proses merogoh yang tidak
kunjung berhasil.
Hakim yang sudah berada beberapa langkah di depanku
mundur. Mendekatiku dan memintaku melepas tas, “Sini gue bantu. Gue heran sama
tas perempuan. Entah isinya apa saja, sampai bingung. Beratnya itu tiada tara,”
kata Hakim dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
“Sakral, Kim. Dan lo enggak perlu tahu isi tas perempuan
itu apa saja,” aku tersenyum menyeringai.
Hakim hanya mematung di sampingku. Aku kembali
merogoh dan berhasil menemukan benda kotak berukuran 15x10 cm dengan tebal
mencapai 4 cm.
“Ini dia!” aku bersorak di depannya sambil
menyodorkan sebuah buku dengan cover warna
cokelat yang sudah pudar. Judul bukunya ditulis dalam aksara Jepang.
“Lo dapat ini?” Hakim tiba-tiba melotot.
“Yes. Di
saat semua orang sibuk ke Perpustakaan Nasional atau ke Japan Foundation untuk
cari buku ini, sementara itu gue bisa dapat buku ini dengan mudah di
perpustakaan jurusan. Betapa kerennya gue. Ya, kan?” kataku dengan wajah
bangga.
Hakim bergumam dalam bahasa Jepang, selanjutnya ia
berkata, “Oke, gue akui lo keren, Sakina Allisa. Tapi gue minta sesuatu dari lo
malam ini.”
“Ha?” aku melongo.
“Gue bukan penjahat kelamin, lo harus camkan itu.
Jangan punya pikiran macam-macam, oke?” kata Hakim.
“Lantas, lo mau minta apa dari gue?” tanyaku sambil
mengelus ujung dagu.
“Tolong ceritakan poin penting dari buku ini sambil
makan roti bakar. Oke?” kata Hakim dengan wajah sedikit memelas.
“Penting?” aku menaikkan sebelah alisku. Kemudian
setelah itu tertawa keras-keras. “Dan kenapa harus roti bakar?”
“Penting. Anggap saja lo balas budi karena gue udah
bersedia antar lo pulang,” kata Hakim berdalih. “Roti bakar, karena lo suka
itu.”
“Lo yang menawarkan jasa antar itu, Kim. Kenapa jadi
gue yang harus balas budi?”
“Please,
Kin. Gue traktir deh. Sebenarnya makalah gue belum selesai. Kurang referensi
satu lagi. Mau kan?” tiba-tiba Hakim memelas.
“Masih jam sepuluh. Kalau gerbang kos ditutup. Lo
harus bantuin gue. Oke?” tawarku.
“Siap. Memang selama ini yang selalu bantuin lo naik
pagar siapa?” Hakim mendelik. Menumpahkan fakta-fakta tentangku yang ia miliki.
“Hakim Andrian.”
Mantap kusebut namanya. Kemudian kami berjalan
beriringan menuju warung kopi pinggir jalan yang menyediakan roti bakar.
Inilah yang membuatku dekat dengannya, karena ia selalu
tahu cara mencairkan keheningan dan membuatku selalu ingat bagaimana cara
tertawa, yang bahkan tidak semua orang bisa melakukannya.
Hakim mengagumkan. Itulah yang terlihat di mataku.
Ditengah obrolan yang sudah membabi-buta tentang
sastra klasik Jepang. Tiba-tiba Hakim bertanya, “Adit juga masih ada di BEM?” mendadak
hawa di sekitar kami berubah.
“Masih. Kenapa?” jawabku. Melirik Hakim yang
tiba-tiba lupa berekspresi. Wajahnya kini datar, bahkan aku tidak bisa membaca
mimiknya.
“Ada masalah sama dia?”
Bodoh. Pertanyaan bodoh itu muncul begitu saja.
“Ada,”
Aku menelan ludah. Sedikit gugup. Gosip itu tidak
mungkin benar. Maria dan teman-teman lainnya memang suka bergosip, jadi—
Lalu Hakim tertawa, “Masalah RO, Kin.”
Aku mengutuk diriku sendiri di dalam hati. Kampret, kupikir benar yang Maria
katakan di BEM tadi.
Sejauh ini aku tahu Adit adalah laki-laki nomer satu
di kepengurusan BEM angkatanku. Seorang Aditya Rahadian. Laki-laki tampan
dengan segala kewibawaannya. Aku tidak munafik menyebut Adit tampan, ia memang
tampan. Selidik punya selidik, Indira pun sudah menyukainya sejak ospek dua
tahun silam. Tidak tahu jika Maria pun mungkin memiliki perasaan yang sama.
“Gue mau bicara sesuatu tentang kepengurusan BEM,
meski gue sendiri bukan pengurus BEM,” kata Hakim. Tiba-tiba pembicaraan kami
menjadi lebih serius.
Aku hanya mengangguk tanda menyetujui maksud Hakim.
“Besok ketemu dulu deh sama Adit, di ruang BEM, jam
empat sore. Gue juga di sana,” tawarku sambil menggigit sepotong roti bakar cokelat yang sudah mulai dingin.
Pembicaraanku dan Hakim sudah selesai. Kami
menghabiskan waktu satu setengah jam di warung kopi Bude yang letaknya tidak
jauh dari rumah kosku. Setelah menunggu Hakim membayar, kami berjalan beriringan
lagi menuju rumah kosku.
***
Siang ini selepas kuliah umum di Fakultas Ilmu
Sosial aku berjalan sendirian menuju ruang BEM. Hakim dan Adit tidak masuk
kelas. Mereka tidak hadir tanpa alasan.
Aku buru-buru menuju ruang BEM, ada sebundel laporan
yang mesti kukerjakan untuk program kerja baru dan aku menjabat sebagai ketua
pelaksananya. Langkahku terhenti ketika indera pendengaranku menangkap suara
yang berasal dari depan ruang BEM. Aku mendengar dari balik dinding.
Suara Hakim.
“Dit, lo punya wibawa di sini. Lo seorang Aditya.
Aditya yang gue kenal sebagai orang paling jujur. Hanya karena masalah sepele,
apa mesti lo melakukan hal ini?” suara Hakim penuh penekanan dan dingin.
“Lo bukan pengurus BEM lagi dan lo enggak perlu ikut
campur. Okay?”
Kini suara Adit yang kudengar. Tidak ada penekanan,
hanya saja ada nada meremehkan di sana.
“Pemalsuan dana itu fatal, Dit. Gue pernah teledor
sekali dan sampai hari ini mengembalikan citra baik di hadapan Dekan itu enggak
mudah,” Hakim menekankan lagi.
“Kim, itu karena lo yang enggak main bersih. Gue
percaya Indira sebagai bendahara BEM. Dia enggak perlu gue ragukan. Citra
program kerja lo yang mengatasnamakan kejujuran di atas segalanya itu kemakan jargon, Kim. See, sampai hari ini siapa yang percaya
sama lo lagi?” kata Adit. Nadanya masih meremehkan.
Aku tidak melihat posisi mereka seperti apa. Setelah
Adit selesai bicara, Hakim tidak menjawab apa pun. Bahkan terhitung satu menit,
mereka tetap bergeming.
“Terima kasih sarannya. Gue mau ke kantin. Sorry kalau kata-kata gue tadi
mengungkit masa lalu lo. Sekarang lo harus belajar main bersih, kalau lo enggak
mau memperburuk citra lo juga di depan Sakina,” kata Adit.
Aku membeku. Namaku dibawa ke dalam percakapan mereka.
Sekelebat kuingat tadi pagi Maria bercerita tentang pertengkaran mereka di
depan BEM seminggu yang lalu.
Kini aku tahu pertengkaran itu bukan semata-mata
karena pemalsuan dana yang Adit lakukan untuk kegiatan BEM jurusanku. Ada hal
lain yang terjadi di antara mereka dan cepat atau lambat aku akan terbawa ke
dalamnya.
“Seharusnya gue tahu lo adalah penjilat dan enggak
profesional,” suara Hakim kini terdengar berat. Ditahan. Segera aku tahu Hakim
sudah ada pada puncak emosinya.
“Dengan jabatan gue sebagai ketua BEM dan penyandang
rangking pertama di akademik jurusan. Mudah bagi gue untuk mendapatkan Sakina. Lo
hanya pecundang, Kim. Menjadi ketua pelaksana acara setingkat fakultas saja
enggak becus, mengurusi dana pun
berantakan, apa kabar Sakina kalau harus bersanding—”
Kudengar satu pukulan keras sebelum Adit
menyelesaikan kata-katanya. Baru setelah itu kudengar Adit memaki.
Hakim tidak bicara apa pun.
Saat kudengar derap langkah lebar menuju ke arahku,
aku mematung.
Mataku menangkap sorot dingin yang Hakim pancarkan.
Mata kami bertemu dan aku tidak bisa menyiratkan apa yang ada di balik mata
dingin itu.
Satu yang kuketahui. Hakim marah, tidak, Hakim tidak
pernah marah. Ia hanya sudah berada di ambang batas sabarnya.
Hari itu kubatalkan rencana untuk menyelesaikan
laporan di ruang BEM. Aku berbalik dan mengejar Hakim. Mengekor di belakangnya
sampai aku sadar sudah berada di depan rumah kosku.
“Kenapa ke sini?” tanyaku sambil menoleh ke segala
arah. Masih bingung kenapa aku terlalu fokus mengikutinya sampai tidak
memperhatikan sekitar.
“Antar lo pulang, Kin. Sorry kalau lo agak risih sama kejadian tadi. Gue sama Adit memang
udah lama ada masalah. Ini akar masalah dari kejadian satu tahun lalu, waktu
gue jadi ketua pelaksana Bulan Budaya di fakultas dan insiden-insiden pemalsuan
dana di dalamnya,” kata Hakim. Ia bercerita panjang.
“Gue tahu masalah itu. Dan semua tahu itu bukan
kesalahan lo. Ketua BEM Sastra Inggris itu pelakunya. Lo dan Adit memang ikut
serta, tapi kalian bersih, kan?” kataku.
“Adit enggak pernah terima citranya jadi buruk di
depan siapa pun. Sampai pemilihan ketua BEM jurusan enam bulan lalu, gue
memilih mundur. Gue enggak mau pertemanan ini bubar gara-gara masalah itu,”
sambung Hakim lagi. Kini ia sudah duduk di bangku panjang di depan rumah kosku.
Ia menundukkan kepalanya.
“Dan karena gue juga?” tanyaku sambil mendekat ke
arahnya. Berdiri di depannya, bingung harus melakukan apa.
Hakim bungkam. Kepalanya masih menunduk di depanku.
Kulihat bahunya naik turun, punggungnya bergetar. Aku tahu kini Hakim sedang
menangis.
“Gue sayang sama lo, Kin. Sejak ospek jurusan dua
tahun lalu, waktu kita satu kelompok, waktu gue lihat lo nangis karena telur
kelompok kita pecah, telur yang kita jaga selama tiga hari di tengah permainan
konyol yang dibuat senior,” Hakim mengusap air matanya. Ia mendongakkan
wajahnya dan aku menangkap sinar dari bola matanya.
“Dua tahun lalu, aku sudah mengagumi perempuan
mungil dengan bola mata cokelat dan senyum cerianya. Sampai hari ini,” kata
Hakim sambil tersenyum.
Kini aku yang bungkam karenanya. Kemudian Hakim
mendekap tubuhku. Air mataku tumpah membasahi kemejanya.
Tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan lagi. Hakim
mengusap puncak kepalaku sambil mengatakan satu kalimat pendek, “Sakina cantik
kalau tersenyum.”
***
Pagi ini berita mengejutkan yang kudengar adalah
Pembantu Dekan memanggil Adit. Masalah pemalsuan dana itu sudah tercium para
birokrat. Kulihat Indira duduk di sudut ruang BEM, melipat kedua kakinya,
menyembunyikan kepalanya.
“Ndi, lo enggak apa-apa, kan?” tanyaku sambil
mengusap punggungnya yang bergetar.
“Gue takut, Kin. Adit di sana sendirian. Gue enggak
tahu harus berbuat apa,” kata Indira. Tangisnya pecah kala ia mendekap tubuhku.
“Tadi malam Adit bilang ke gue, katanya pemalsuan dana ini demi lo, Kin. Lo sebagai
ketua pelaksana. Dan Adit mau tim lo sukses.”
Indira menangis tersedu-sedu. Aku tidak bisa
mengatakan apa pun.
“Ndi, ikut gue sekarang. Lo adalah kunci semua ini.
Gue akan jamin kalau lo enggak akan dapat masalah. Ayo!” kulihat Hakim sudah
berdiri di depan ruang BEM.
“Kim, gue takut. Tapi gue juga enggak mau Adit
sendiri di sana,” Indira masih menangis sambil mendekapku, nafasnya terengah.
“Enggak apa-apa, Ndi. Gue percaya enggak akan ada
masalah,” kataku sambil menenangkannya. Mataku menangkap bola mata Hakim.
Tatapannya penuh keyakinan. Dan aku percaya semua akan baik-baik saja.
Segera setelah aku mengatakan itu Indira bangkit dan
mengekor di belakang Hakim. Aku tidak ikut. Aku harus menghadap Dosen Pembimbing
Kemahasiswaan di ruang Dosen.
***
Sore ini setelah menghadap dosen kemahasiswaan aku
buru-buru ke ruang BEM. Mungkin Hakim dan yang lain sudah di sana. Aku melewati
koridor gedung E dan beberapa teman satu jurusanku mencegat di ujung
koridornya. Mereka menanyakan tentang kabar panas yang mulai menyebar seantero
kampus ini sejak tadi pagi. Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa segalanya
akan baik-baik saja.
Beberapa teman dari jurusan lain bersikap sama,
mencegat, dan menanyakan hal yang sama. “Ini hanya kesalahpahaman. Gue juga
masih menunggu kabar yang sebenarnya,” kataku. Lalu mereka mengangguk, tapi
sorotan mata mereka terlihat sama sekali tidak setuju jika segalanya akan
baik-baik saja.
Tahun lalu ketika terjadi insiden pemalsuan dana
oleh BEM fakultas. Hal itu menyebabkan BEM fakultas akan dianak tirikan jika
tetap berdiri dan sama sekali tidak akan didanai dalam kegiatan apa pun. Mimpi buruk
yang hingga kini membayangi Hakim, juga Adit. Kini, organisasi mereka berdua
kembali tersangkut kasus yang sama.
Sesampainya di ruang BEM, kulihat pintunya masih
terkunci. Artinya mereka bertiga belum kembali.
“Kin,” suara Adit memanggilku. Aku menoleh ke
belakang dan mendapatinya berdiri mematung.
“Gue minta maaf, Dit. Terlalu bodoh lo melakukan hal
itu demi acara yang gue ketuai,” kataku sambil menghampirinya, lalu memukulnya
sambil menangis.
“Kin, gue sayang sama lo. Apa pun, yang masih mampu
gue lakukan, gue akan lakukan itu,” Adit meraih tanganku dan menggenggamnya.
Aku mematung. Tidak tahu harus melakukan apa.
Rentetan kejadian beberapa hari ini terlalu menguras kemampuan logikaku.
Tiba-tiba kulihat Hakim datang bersama Indira dari
arah gedung E. Mereka berdua mematung menyaksikan aku dan Adit.
“Kim, gue sayang sama Sakina,” kata Adit, kepalanya
menoleh ke arah Hakim. Setelah itu kulihat Indira sudah berlari ke arah gedung
E. Indira butuh waktu. Perasaannya selama dua tahun ini selalu ia sembunyikan,
bahkan terkadang ia bohongi.
“Gue tahu, Dit,” sahut Hakim. Suaranya tenang.
“Gue enggak pernah suka pertengkaran kekanakan ini.
Hakim sahabat gue, bahkan kita berdua kenal sejak pengumuman SNMPTN dua tahun
lalu,” kata Adit. Matanya menatap Hakim dengan tenang. Tidak ada tatapan benci
lagi di sana.
“Karena gue?” aku menatap satu per satu kedua bola
mata mereka.
“Sakina, ini bukan salah lo. Bukan salah gue. Juga
bukan salah Adit. Perasaan ini datangnya tiba-tiba, enggak pernah terduga.
Kalau kita bertiga saat ini ada di dalam satu lingkaran, mungkin sudah porosnya,”
Hakim mendekat ke arahku dan Adit. Tanganku masih ada dalam genggaman Adit.
Adit tersenyum. “Gue setuju sama Hakim.”
Aku mematung. Menatap sorot mata Hakim yang kini
terlihat bersinar.
Kuhembuskan nafasku. Kemudian menarik telapak
tanganku yang masih menyusup dalam genggaman Adit.
“Adit, gue mau jujur. Sejak lama, gue selalu tahu
arah mana yang harus gue tuju. Enggak ada seorang pun yang mampu membohongi perasaannya,
kan? Kecuali dia mau menyakiti dirinya sendiri,” kataku. Kemudian menuju kepada
Hakim dan meraih telapak tangannya. Menggenggamnya dengan erat.
Adit tersenyum. “Iya, Kin. Gue enggak akan maksa.
Ini pilihan lo.”
“Maaf karna selama ini gue kurang peka,” kataku pada
Adit.
“Enggak masalah, Kin—” Adit tersenyum lagi. “—Kim,
jaga baik-baik Sakina. Lo sahabat gue, enggak usah deh bikin onar dengan
mengecewakan perempuan yang lo cinta.”
Hakim tersenyum. Kulihat ia begitu bersinar.
Pancaran matanya terlihat berbinar.
Kini, mereka berdua bisa tersenyum bersama.
Aku pun ikut tersenyum.
***
Sudah satu minggu setelah kejadian di depan ruang
BEM itu. Selama satu minggu ini, setiap hari Adit menemui para birokrat untuk mengurusi
masalah pemalsuan dana itu. Hakim juga selalu ada bersamanya. Indira terkadang
tidak ikut, memilih untuk menunggu mereka di ruang BEM bersamaku.
Kini, masalah itu sudah selesai. Para birokrat masih
memberi keringanan untuk kesalahan yang dilakukan Adit. Mereka masih akan
mendanai beberapa kegiatan penting untuk BEM jurusanku dengan pengawasan yang
ketat.
BEM jurusanku tetap aman. Adit masih melanjutkan
masa jabatannya sebagai ketua BEM. Aku, Indira, Maria, dan teman-teman lainnya
juga masih menjadi pengurus BEM. Melanjutkan program kerja yang belum
terlaksana.
Sementara Hakim. Ia tetap menjadi Hakim Andrian,
laki-laki penyabar yang masih memiliki kehebatan tersendiri untukku.
“Sakina, ketika seseorang memberi lo cinta yang
utuh. Apa yang akan lo lakukan?” tanya Hakim.
Aku mencerna kata-katanya terlebih dahulu sambil
menjilati ringo ame yang baru saja
Hakim belikan di stand makanan dekat
pintu masuk.
“Gue akan menjatuhkan hati gue. Utuh,” jawabku.
“Rasanya terkadang sakit, tapi perasaan kita pun
akan lega. Ya, kan?” kata Hakim meminta persetujuan.
Aku hanya tersenyum.
Aku
tahu rasanya karena aku pernah satu kali menjatuhkan hati. Kujatuhkan hati ini
padanya. Bahkan sampai hari ini aku masih melakukannya—jatuh hati pada sosoknya.
Suasana
puncak acara festival budaya yang diadakan di pelataran Monas malam ini begitu
meriah. Kembang api meluncur ke atas langit dan menyajikan pemandangan
mempesona. Mereka memecah gelapnya langit malam.
Aku
hadir di sana. Hakim pun hadir di sampingku. Aku tersenyum. Berjalan
beriringan, kemudian ia menggenggam erat tanganku.
“Enggak
perlu menyesal untuk hal-hal yang sudah terjadi. Mungkin segala sesuatu yang
berlangsung hari ini, akan ada korelasinya suatu saat nanti.”
Aku
hanya tersenyum, tanda setuju. Karena selanjutnya aku mengerti. Cinta itu murni
datangnya dari Yang Maha Kuasa. Suatu hari mungkin punggung lebar itu yang
harus kuikuti, yang akan mengantarku pada jalan yang seharusnya, dan si
pemiliknya akan menjadi Imamku kelak.
Aku
mencintai Hakim.
Dan
semesta tahu. Hatiku sudah sepenuhnya kugiring pada Hakim. Tapi tidak mengikat,
tidak juga menjerat. Aku memilih berpulang pada hatinya hanya karena aku
percaya.
Mulai
saat ini. Sampai entah suatu hari nanti ketika kami akan ditakdirkan hidup
bersama oleh Yang Maha Cinta.
Amin.
***