Saturday, February 15, 2014

Aku Masih di Jakarta



Sinar matahari perlahan menghilang di balik gedung-gedung pencakar langit yang semakin membuat semarak kota Jakarta. Sore ini udaranya lembab. Habis hujan. Nina duduk di belakang setir, pandangannya fokus ke depan. Jumat sore ini di sepanjang ruas jalan Sudirman menuju Semanggi dipenuhi entah berapa ratus kendaraan. Nina melengos. Menyambar blackberrynya yang berkedip berkali-kali.

Nin, you okay?
Can you tell me the truth?

No. I can’t.” kata Nina. Sambil melempar ponselnya ke jok di sebelahnya.
Pesan-pesan itu ia terima dari Romeo. Laki-laki yang ia temui di Bundaran HI dalam acara penggalangan dana untuk korban banjir di Jakarta pada awal tahun 2013. Dan setelah itu Romeo berhasil mengisi dan mewarnai hidupnya.
Romeo adalah laki-laki yang baik. Sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Nina. Nina sadar kini ia sudah terkunci. Romeo tidak semata-mata membuka hatinya untuk Nina tanpa Nina harus tinggal di dalamnya. Nina tahu. Ia harus ada di sana. Sayangnya, Nina tidak benar-benar tinggal di sana.
Ponsel Nina berbunyi. Nina mengabaikannya. Ia yakin itu panggilan dari Romeo. Untuk hari ini saja, ia tidak ingin menjalani kehidupan normalnya. Kehidupannya yang berwarna. Nina melihat sekeliling. Mobilnya masih terjebak dalam kemacetan yang mengular di sepanjang jalan Sudirman. Tiba-tiba sebuah tulisan tertangkap matanya.
Ratu Plaza.
Tangannya bergerak cepat mengikuti keinginan otaknya. Reseptornya bekerja cepat. Memutar setir dan membelokkan mobilnya ke arah pintu masuk Ratu Plaza.
Lima tahun yang lalu ia pernah ke tempat ini. Waktu itu hari sabtu. Kakinya melangkah lebar-lebar menuruni jembatan penyebrangan di depan Ratu Plaza. Berjalan beriringan melewati pedagang-pedagang di bawah jembatan.
Nina memarkir mobilnya. Jalanan terlihat masih padat. Tidak ada salahnya sore ini ia berjalan-jalan di sepanjang trotoar jalan Sudirman itu.
Ia tersenyum. Meninggalkan ponselnya di mobil. Hari ini ia ingin bermain. Bermain dalam masa lalunya. Menelusuri bayang-bayang kenangannya. Tahun-tahun ketika ia masih memakai seragam putih abu-abu. Tahun-tahun ketika ia menemukan seseorang yang membuat hidupnya lengkap.
Junior Andrian. Juno, begitulah ia memanggilnya.

***

Nina berjalan ke bawah jembatan penyebrangan di depan Ratu Plaza. Mencicipi jajanan pinggir jalan yang berjajar di sana. Padahal, dulu waktu masih bersama Juno, Nina tidak pernah mau menyentuh jajanan pinggir jalan itu.
Nina mengingat percakapannya dengan Juno waktu itu. Sambil menikmati tahu isi dan pastel yang baru saja ia beli. Pikirannya perlahan-lahan terbang ke masa lalu.

“Jangan makan jajanan di pinggir jalan. Itu pasti minyak gorengnya dipakai berkali-kali. Terus itu pasti ada cacingnya,” kata Nina.
“Tapi enak, gurih juga, Nin. Lagian enggak ada cacingnya kok, coba nih lihat tahu isi aku,” tantang Juno.
“Bukan cacing yang menggeliat itu, No. Cacing ini bakteri. Kamu tahu enggak kenapa gorengan pinggir jalan itu gurih?” tanya Nina sambil melirik Juno yang masih sibuk menjejalkan tahu isi ke mulutnya.
Juno menggeleng. “Apa?”
“Ada plastiknya.” Jawab Nina.
“Berarti orang-orang yang makan gorengan itu keren, bisa makan plastik. Kalo minyak goreng yang ada belingnya, ada enggak? Biar aku makan beling, kayak kuda lumping.” Kata Juno.
Nina merengut sambil menahan tawa.
“Udah habis, nih. Aku udah lahap semua plastiknya. Aku keren, kan?” kata Juno sambil berkacak pinggang.
“Iya. Kamu keren. Besok kamu masuk rumah sakit.” Semprot Nina kesal.
Juno melirik Nina di sampingnya. Sambil tersenyum, “Jelek kamu kalo ngambek.”
“Biar jelek, yang penting sehat.” Nina melengos.
“Nina, aku tahu kamu punya trauma soal jajanan pinggir jalan. Tapi tenang aja, aku jaga kesehatan kok. Biar bisa hidup lebih lama sama kamu.” Juno mengedipkan satu matanya.
Nina akhirnya tertawa. “Gombal, kamu.”

Nina tersenyum di sepanjang trotoar. Melewati gerobak-gerobak yang menjual nasi goreng, ketoprak, bakso, dan makanan lainnya yang dulu sering Juno beli.
Langkah Nina berhenti di depan halte Gelora Bung Karno. Kebetulan bapak yang sering bermain biola ada di sana. Nina menghampiri bapak itu dan tersenyum.
“Mau Pachelbel, pak.” Kata Nina.
Bapak itu tersenyum, kemudian menggesek biolanya perlahan. Mengalunkan sebuah musik klasik dari Pachelbel.
Nina diam. Berdiri mematung sambil melihat permainan biola bapak yang usianya sudah hampir senja itu. Tempat yang sama. Bapak yang sama. Hanya Nina yang tidak lagi sama. Ia tidak lagi bersama Juno.
Juno, kamu masih ingat?” batin Nina bertanya.
Bapak itu menyelesaikan permainannya. “Sudah selesai, mbak. Mau yang lain?”
Nina menggeleng, “Terima kasih, pak. Ini untuk anak bapak.” Kata Nina, kemudian menyerahkan selembar uang seratus ribuan ke tangan bapak itu.
“Terima kasih, mbak.” Bapak itu terlihat bahagia. Nina hanya tersenyum. Kemudian berjalan lagi menuju satu tempat yang selalu membuatnya kuat menghadapi hari-hari tanpa Juno. Meski selalu diiringi tangisan.
Jakarta sudah mulai gelap. Kepadatan lalu lintas di jalan Sudirman masih belum berkurang. Nina berjalan melewati Depdiknas, Outback Steakhouse, Ratu Plaza, dan masuk menuju komplek Plaza Senayan.
Kemudian memasuki kawasan apartemen yang banyak dihuni oleh kalangan ekspatriat. Setelah melewati pelataran parkir, Nina berjalan ke dalam pusat perbelanjaan yang menorehkan banyak kenangan tentang Juno itu.
Kaki Nina masih melangkah. Menuju tempat yang paling ia suka. Nina berdiri di hadapan jam besar keemasan yang bernama Marygold Clock. Nina tersenyum. Ia datang di saat yang tepat. Marygold Clock itu sedang terbuka. Enam patung pemusiknya muncul dan memainkan musik yang menyenangkan. Nina pernah berdiri di tempat yang sama. Bersama Juno.

“Kalau di rumahku ada jam sebesar itu, mungkin aku enggak akan terlambat masuk sekolah.” Kata Juno.
“Aku enggak percaya.” Celetuk Nina.
“Kenapa?” tanya Juno.
“Karna musiknya enak buat tidur lagi.” jawab Nina.
“Itu sih, kamu. Aku kan enggak suka musik begituan. Nanti aku ganti musiknya pake lagu-lagunya Radiohead, 30 Seconds to Mars, atau Burgerkill. Pasti keren.” Kata Juno sambil bergaya menabuh drum.
Nina tertawa. “Norak, ih!”

Nina tersenyum. Selesai menikmati musik dari Marygold Clock itu mata Nina menjelajah. Menelusuri pelataran atrium Plaza Senayan yang kini diisi oleh beberapa mobil mewah. Dulu, waktu ia bersama Juno, atrium itu juga dipenuhi mobil mewah. Saat itu mereka berencana membeli salah satu mobil mewah yang berjajar di sana dengan uang tabungan mereka berdua. Sampai saat ini, Nina masih menabung.
Juno, kamu masih ingat?” batin Nina lagi.
Nina berjalan lagi. Turun melalui eskalator. Menyusuri jajaran toko dengan brand terkenal. Kemudian keluar menuju pelataran Plaza Senayan.
Nina sampai di pelataran itu. Duduk di sana sendirian. Tidak banyak orang-orang yang duduk di sana. Hanya ada beberapa anak muda yang sedang memotret.
 Di pelataran itu ia bisa duduk berjam-jam. Mendengarkan musik klasik dan menikmati pertunjukan air mancur di sana.
Meski gerimis. Air mancur di pelataran Plaza Senayan itu masih sama. Turun dan naik. Meliuk diiringi musik klasik. Pelataran itu gelap. Nina menghadap ke arah gedung-gedung yang seakan bercahaya di malam hari. Pemandangan yang sama seperti lima tahun yang lalu. Hanya saja kali ini Nina sendirian. Tidak lagi ditemani Juno.
Nina mengingat tahun-tahun ketika ia mencari Juno. Tidak pernah menerima kabar apa pun. Sampai akhirnya ia mulai bosan. Sudah mulai tertekan keadaan.
Nina menerima Romeo dan menjalani hidupnya lagi secara normal. Dan hatinya kembali terisi setelah ia kehilangan Juno. Romeo bisa membuatnya berhenti sejenak melupakan Juno. Meski terkadang dalam suatu hari Nina akan menghilang. Menyendiri di pelataran Plaza Senayan. Menggali kenangan-kenangannya bersama Juno di sana. Seperti saat ini.
Pikiran Nina melayang mengingat e-mail terakhir yang Juno kirimkan. Waktu itu Nina menelepon. Juno menjawab singkat, katanya ia sibuk. Nina tidak marah, ia mengerti mungkin Juno sedang banyak tugas. Selama beberapa minggu Nina tidak mengirim e-mail untuk Juno. Nina hanya mengirim beberapa pesan di BBM menyemangati Juno. Pada akhirnya pesan-pesan di BBM itu juga tidak pernah berbalas.

Minggu, 21 Oktober 2012
From               : Junior Andrian
To                    : Elenina Tara
Subject            : Jenuh
Aku jenuh. Minggu depan aku mau liburan. Aku harap kamu ngerti.

Sejak itu tidak ada lagi pesan singkat, telepon, atau e-mail dari Juno. Juno menghilang. Selama satu bulan Nina menunggu, akhirnya Nina pergi ke rumah Juno dan menemukan rumah itu sudah kosong.
Saat ini Nina sudah menangis. Menutup mulutnya, menahan agar isakannya tidak terdengar. Nina menangisi tahun-tahun yang membuatnya menunggu. Begitu berat dan lelah. Tidak pernah ada kabar. Bahkan sampai hari ini.

Minggu,  6 Januari 2013
From               : Elenina Tara
To                    : Junior Andrian
Subject            : Ulang tahun
Sudah Januari, kamu harusnya pulang. Dan hari ini aku ulang tahun, No. Kamu enggak ada kabar. Aku enggak tahu harus hubungi siapa. Selama satu bulan kemarin, setiap hari, aku ke rumah kamu. Enggak pernah ada jawaban. Semesta ini bersekongkol menyembunyikan kamu, No. Kamu di mana?

Minggu,  7 Juli 2013
From               : Elenina Tara
To                    : Junior Andrian
Subject            : Di mana?
Kamu di mana Junior Andrian? Harusnya kamu sudah pulang ke Jakarta. Siapa yang menahanmu di Malang, No? Aku benci memikirkan hal yang aneh-aneh.

Rabu,  21 November 2013
From               : Elenina Tara
To                    : Junior Andrian
Subject            : Satu tahun
Aku nunggu selama ini, No. Aku lelah. Kamu benar-benar hilang. Tidak ada yang tahu kamu di mana. Kamu pergi ke mana, Juno? Mungkin aku harus berhenti. Ada banyak kemungkinan dan aku benci menebak. Suatu hari, kalau kamu mau kembali ke Jakarta. Hubungi aku. Aku masih di Jakarta.

Nina pernah pergi ke Malang. Naik pesawat sendirian. Memberanikan diri mencari Juno. Mendatangi rumah kos Juno. Tapi Rumah kos itu kosong, tidak ada siapa pun. Nina bertanya pada orang-orang di sana. Kata mereka, sudah satu tahun rumah kos itu kosong. Tidak ada penghuninya. Nina menggigit bibirnya dan mengerjapkan matanya berkali-kali menahan air matanya agar tidak tumpah.
Nina meremas kertas yang berisi alamat rumah kos Juno. Melemparnya ke tanah. Setelah berterima kasih pada orang-orang di sana. Nina pergi, masuk ke dalam taksi dan menangis sejadi-jadinya.
Sampai akhirnya sopir taksi bertanya tujuannya ke mana.
Nina kembali ke Jakarta dengan pesawat malam itu. Lalu dimarahi kedua orang tuanya.

“Juno, kapan kamu pulang?” kata Nina lirih.
“Juno, aku masih di Jakarta. Belum pergi ke mana pun. Tapi kamu belum kembali.” lanjutnya. Menggenggam erat ujung rok yang ia pakai. Menahan sakit yang bertahun-tahun ini ia pendam bersama bayang-bayang Juno.
“Nin…” sebuah suara memanggilnya lirih.
Nina menoleh ke belakang. Di sana ada Romeo.
Nina berdiri, berjalan menghampiri Romeo. “How you find me?”
“Juno.” Jawab Romeo.
Seketika tubuhnya menggigil. Merasakan rasa nyeri yang tiba-tiba menjalari hatinya.
Nina tercengang.
“Rom, kamu tahu Juno?” tanyanya hati-hati.
“Ayo berteduh dulu. Mau hujan,” Romeo menggiring Nina dan memeluk bahu Nina. Menuju area yang bisa melindungi mereka dari gerimis yang perlahan-lahan menjadi hujan besar.
“Pakai jasku.” Romeo melepas jas putih yang ia kenakan. Memakaikan pada Nina. Tadi, ia tidak sempat melepas jas labnya. Segera setelah praktikum selesai ia berlari mengemudikan mobilnya. Menghadapi macetnya Jakarta.  Kemudian menemukan Nina duduk sendirian di pelataran air mancur ini.
Nina pasrah. Pikirannya kacau. Tubuhnya menggigil. Bukan karena percikan air hujan atau angin malam yang menerpanya sejak tadi. Melainkan karena Juno.
Juno memenuhi pikiran Nina. “Kamu sebenarnya ada di mana, No?” batin Nina.
Romeo membawa Nina masuk ke dalam restoran yang terdekat. Setelah mendapat tempat duduk. Romeo memesan cokelat hangat untuk Nina. Nina masih diam. Menunduk. Romeo tahu Nina tidak dalam kondisi yang baik.
“Nin…” panggil Romeo lembut.
Nina masih menunduk. Tidak menjawab.
Look at my eyes, Nin.” Kata Romeo sambil memegang kedua pipi Nina.
“Romeo, kamu tahu apa tentang Juno?” akhirnya Nina berhasil membuka mulutnya. Mengeluarkan pertanyaan sakral itu.
“Nina, mungkin hari ini saatnya kamu tahu. Selama ini aku sembunyikan banyak rahasia dari kamu. Aku tahu ini bukan cara yang terbaik. Tapi ini keinginan Juno. Keinginan sahabatku.” Kata Romeo.
Nina semakin tercengang. Air matanya turun.
“Aku minta maaf, Nin.” Kata Romeo lirih.
“Kamu tahu di mana Juno sekarang, Rom?” tanya Nina sambil terisak. Pada akhirnya ia tahu kepada siapa ia bisa menanyakan di mana keberadaan Juno.
“Juno menitipkan ini. Sebulan sebelum kita bertemu di Bundaran HI tiga tahun yang lalu. Pertemuan yang direncanakan. Yang tidak pernah kamu ketahui selama ini.”
Romeo menahan nafasnya. Kalimat demi kalimat yang ia keluarkan malam ini begitu menekan paru-parunya.
Nina tidak berekspresi. Menerima kertas yang sudah kusam dari tangan Romeo. Kertas itu  sudah disimpan begitu lama di dalam saku kemeja yang dikenakan Romeo atau saku-saku celana yang Romeo pakai. Setiap hari. Selama bertahun-tahun.
Nina membuka kertas kusam itu. Ada tulisan tangan Juno di sana. Tulisan Juno yang jelek. Tulisan Juno yang selalu Nina lihat di lembar-lembar buku pelajarannya.

Nina anak FK Trisakti. Nina suka musik klasik. Nina tergila-gila sama Pachelbel. Nina suka ke Plaza Senayan, paling suka liat Marygold  Clock di sana. Habis itu dia ke air mancur di pelataran Plaza Senayan, duduk di sana, lama. Nina suka nungguin bapak tua di jembatan penyebrangan depan GBK. Nina benci jajanan pinggir jalan. Nina itu manusia higienis. Nina terkadang bawel. Nina suka cerita apa pun yang dia anggap menarik. Nina geli kalau denger gombalan laki-laki. Mudah membuat Nina tersenyum. Dan… Nina suka tertawa.
Gue percaya sama lo, Rom. Jaga Nina. –Junior

Tubuh Nina melemas. Kertas kusam berisi tulisan tangan Juno itu terlepas dari tangannya. Jatuh di atas meja.
 “Nina, aku tahu kenapa kamu diam waktu Marygold Clock itu berbunyi. Bukan karena kamu terpana sama enam patung pemusik yang memainkan musik berbeda-beda itu, kan? Bukan karena itu. Aku tahu, Nina.” Kata Romeo.
“Karena Juno.” Sahut Nina. Suaranya tercekat ketika menyebutkan nama itu.
“Banyak yang Juno sembunyikan, Nin. Dari kamu, dari sahabat-sahabatnya,” kata Romeo. Matanya menelusuri mata Nina yang semakin lama semakin berair.
 “Romeo, tell me the truth.” Kata Nina. Penuh penekanan.
“Di tahun-tahun pertama Juno kuliah, dia ikut pendakian ke Semeru. Kamu tahu enggak, berita tentang insiden hilangnya seorang mahasiswa Unibraw waktu itu? November 2012, kamu pernah tahu, Nin?” kata Romeo.
Nina menggeleng, “Lalu?”
“Memang, beritanya enggak begitu meluas. Soalnya mahasiswa itu langsung bisa ditemukan,”
Nina memotong. “Mahasiswa itu Juno, kan?”
Romeo mengangguk.
“Juno hilang selama empat hari. Kemudian ditemukan di Jurang Semeru. Wajahnya lelah. Sewaktu ditanya tim SAR, Juno linglung. Sedikit hal yang bisa dia ingat. Salah satunya nama Nina. Aku dengar ini dari Mama Juno yang menitipkan kertas berisi tulisan tangan Juno tadi.” Ungkap Romeo.
Nina menangis. “Sekarang Juno ada di mana, Rom?” ia terisak.
“Juno tinggal di Amerika. Keluarganya pindah ke sana. Seminggu setelah kejadian itu, Juno meninggalkan Indonesia. Sampai hari ini, tidak pernah kembali.”
Pikiran Nina melayang. Mengingat tahun-tahun ketika ia menunggu kabar dari Juno. Setiap hari datang ke rumah Juno yang halamannya sudah ditumbuhi rumput liar, keran airnya rusak, dan sebuah sepeda yang dulu sering di pakai Juno semakin lama semakin berkarat. Pada akhirnya, penantian itu tidak pernah selesai. Sampai hari ini.
“Sayangnya, Juno enggak bisa kasih tahu kamu langsung. Dia mengalami trauma dan diserang depresi ringan. Orang tua Juno enggak mau anaknya berhubungan lagi sama Indonesia. Ada beberapa hal mistis yang enggak bisa terdefinisi sama logika kita, Nin.” Kata Romeo.
“Mama Juno bilang, satu-satunya orang yang tahu kabar Juno dan kepindahannya waktu itu cuma aku. Entah apa alasannya. Tapi seminggu setelah kepindahannya ke Amerika, aku terima panggilan telepon dari Juno…”
“Gimana keadaannya waktu itu?” sela Nina. Perasaannya kalut. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut Romeo terasa seperti mesiu yang bisa dengan mudah membuat ledakan.
Romeo menarik nafas panjang. “Juno bicara terbata-bata. Tidak bisa lancar.”
Jantung Nina terasa ditekan. Paru-parunya sesak. Ia menarik nafas sejenak.
“Nin, you okay?” Romeo memegang pipi yang kini seluruhnya sudah basah karena air mata itu.
I’m okay. Kamu bisa lanjutkan, Rom. Juno bilang apa?” tanya Nina di dalam sela tangisannya.
“Juno cuma bilang beberapa kata. Waktu itu aku dengar, ‘Rom, Nina okay? Jaga Nina. Ini rahasia’. Itu yang Juno bilang.” Kata Romeo.
“Cuma itu?” tanya Nina.
“Cuma itu, Nin. Awalnya aku bingung. Dulu Juno sering cerita tentang kamu. Aku tahu Nina itu pacarnya Juno. Akhirnya dari kertas dan telepon Juno itu aku tahu, Juno menitipkan pacarnya. Menitipkan kamu, Nin.” Jelas Romeo.
Romeo menatap mata Nina. “Setelah itu aku sering lihat perempuan dengan bingkai kacamata hitam lewat di depan rumahku. Duduk di bangku di bawah pohon ceri.”
“Romeo, aku minta maaf.” Kata Nina sambil terisak.
“Jangan nangis, Nina.” Romeo tersenyum. Memegang kedua pipi Nina dan menghapus air mata yang tertinggal di sana.
“Waktu kamu duduk di bangku itu, rasanya pengen aku temenin. Cuma agak aneh kalo tiba-tiba aku duduk di sebelah kamu. Terus kita kenalan. Akhirnya aku tahu kampus kamu ikut acara penggalangan dana di Bundaran HI itu. Aku panitianya. Kamu juga ternyata jadi perwakilan kampus. Dan aku kenal kamu di sana. Kita memulai semuanya di sana…”
“…tadinya aku kira kita cuma sahabatan. Tapi perasaan ini enggak bisa diprediksi, Nin. Aku sayang kamu lebih dari itu. Dan sehari sebelum aku nembak kamu di depan Marygold Clock, Juno telepon aku. Dia masih terbata. Katanya, ‘Jadi pacar Nina. Aku mohon’. Dan aku lakukan permohonannya, tanpa dipaksa, tanpa terpaksa.” Ungkap Romeo.
Nina menatap mata Romeo. “Aku pikir, suatu saat kamu memang harus tahu perasaanku, Rom. Tapi, ternyata kamu sudah lebih tahu sejak awal.”
“Enggak masalah, Nin. Aku enggak akan maksa, karena aku pun enggak dipaksa. Meski kamu enggak bisa tinggal di sini,” Romeo menunjuk dadanya.
Nina tersenyum. “Kamu tahu segalanya, Rom. Percuma selama ini aku sembunyikan.”
Romeo ikut tersenyum.
“Aku berharap masih bisa bertemu Juno.” Sahut Nina pelan.
“Aku juga, Nin.” Kata Nino.
Nina bangkit dari tempat duduknya, “Aku mau pulang, Rom.”
“Aku antar. Biar mobil kamu nanti aku yang ambil. Di Ratu Plaza, kan?” kata Romeo.
Nina mengangguk. Ia pasrah.
Setelah Romeo meminta bill dan membayar pesanannya. Ia membawa Nina keluar. Berjalan menuju pelataran parkir. Kemudian mengantar Nina pulang ke rumahnya.

***

Kamar tidurnya masih dingin. Pagi ini Nina sedikit tenang. Semalam Romeo meninggalkan kecupan di dahinya dan ucapan selamat tidur untuknya. Nina tahu, melupakan Juno adalah suatu keharusan. Ia sudah memiliki Romeo yang mencintainya. Tapi hatinya masih tertinggal di sana. Di penjara kenangan-kenangan bersama Juno.
Apalagi setelah dirinya tahu Juno masih ada dan masih mengingatnya. Meski Juno tidak benar-benar menghubunginya. Juno mengirim Romeo untuknya. Nina percaya Juno masih ingin menjaganya. Memberikan senyuman-senyuman setiap harinya.
Kakinya beranjak menuju meja belajar. Nina membuka laptopnya. Ia menatap layar laptop. Mencari daftar e-mail yang masuk di inbox. Ingatannya kembali pada tahun-tahun ketika ia dan Juno rajin bertukar cerita melalui e-mail. Menelepon jika memungkinkan.
Nina menangis. Pandangannya sedikit kabur. Ia melepas kacamatanya dan menghapus air mata. Setelah membulatkan tekad Nina memberanikan diri membaca ulang barisan kata-kata yang ditulis Juno setiap weekend.

Sabtu, 15 September 2012
From               : Elenina Tara
To                   : Junior Andrian
Subject           : Kangen
Juno, minggu ini aku mulai masuk kuliah. Seru banget, No. Aku ketemu sama temen-temen baru. Ada beberapa, sih, temen SMA kita yang satu kampus sama aku. Aku masih suka ke Plaza Senayan sendirian. Oh ya, sekarang aku udah boleh bawa mobil sendiri. Tapi, percuma bawa mobil di sepanjang Sudirman, capek sama macet. Lebih enak jalan kaki. Naik Transjakarta, turun di halte GBK, terus dengerin pemain biola di sana. Habis itu kita jalan ke Plaza Senayan. Jadi kangen kamu, No.
Kamu gimana di Malang? Jangan lupa makan, ya. Istirahat yang cukup. Jangan keseringan jajan sembarangan. Nanti kalau kamu sakit di sana, gimana?

Minggu, 16 September 2012
From               : Junior Andrian
To                   : Elenina Tara
Subject           : Re: Kangen
Aku juga mau jalan sama kamu lagi. Di sini enggak ada Marygold. Adanya kota wisata batu, banyak lampionnya, kamu pasti suka. Di sini aku bisa lihat gunung, enggak kayak di Jakarta. Ketutup gedung. Nanti aku bawa kamu ke sini, ya?
Aku sehat, Nin. Kamu juga harus jaga kesehatan. Iya, bawel deh. Lagian gampang aja, sih. Kalo aku sakit kan kamu dokternya. Nina si calon dokter. Aku kangen kamu!

Nina membuka e-mail lainnya, kemudian membacanya lagi. Ia merindukan Juno. Pagi  ini di dalam kamarnya, Nina terisak. Menangisi kenangannya dengan Juno.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Nina cepat-cepat menghapus air matanya. Lalu membukakan pintu.
“Kenapa, Ma?” Nina melihat Mamanya berdiri di depan kamarnya.
“Ada telepon, Nin. Dari Amerika.” Jawab Mama Nina.
Jantung Nina berhenti sejenak. Ia cepat-cepat berlari menuruni tangga. Lalu meraih gagang telepon di ruang keluarganya.
“Bisa bicara dengan Elenina Tara?” tanya seseorang diujung telepon.
“Ya, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?”
“Saya kakak Junior. Ada berita tentang dia yang harus kamu tahu. Makanya saya telepon kamu, ini permintaan Junior.”
“Junior?” Nina merenyit. “Juno?” tanyanya memastikan. Perasaannya sudah bercampur-campur.
“Iya.”
“Ada apa dengan Juno?” tanya Nina. Sedikit tercekat.
“Semalam Junior bunuh diri. Kami sekeluarga tidak tahu apa sebabnya. Tapi selama ini Junior sudah terlalu depresi. Mungkin kamu bingung, banyak hal yang kamu enggak tahu. Junior menitipkan surat untuk kamu, Elenina.”
Nina tercekat. Kalimat-kalimat tadi ditelannya bulat-bulat. Membuat dadanya sesak. Matanya sudah dipenuhi cairan hangat. Nina menangis.
“Junior dikebumikan di Indonesia. Mungkin besok baru sampai. Junior dibawa ke rumah neneknya di Tebet. Kamu tahu?”
“T-tahu.” Jawab Nina. Suaranya bergetar hebat.
Setelah itu sambungan telepon terputus. Nina terduduk di bawah meja telepon. Kemudian mamanya memeluknya. Tidak bertanya apa pun dan membawa Nina ke kamar.
Nina menangis. Tidak berhenti.
Romeo datang. Masuk ke dalam kamar. Nina masih ada di depan laptopnya. Memandangi layar berisi barisan pesan-pesan dari Juno itu.
“Nin, kamu pasti sudah tahu.” Romeo menghampiri Nina.
Nina tidak menjawab.
“Besok kita ke rumah nenek Juno. Kita lihat Juno lagi, Nin.” Kata Romeo. Suaranya bergetar.
Nina terisak. Mulai menangis meraung-raung. Romeo segera memeluk gadis itu. Nina tidak berontak. Nina meluapkan segalanya dalam pelukan Romeo. Sampai ia kelelahan.
Romeo mengecup dahi Nina dan membiarkan gadis itu menyendiri lagi.
“Aku sayang kamu, Nin. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, ya.”

***
21 Maret 2016

Nina, maafin aku ya. Aku bikin kamu kecewa. Aku enggak bisa tepatin janji. Aku enggak bisa pulang ke Jakarta. Aku tahu kamu nunggu aku di sana. Selama ini aku juga bingung apa yang terjadi sama kehidupan aku.
Aku enggak bisa cerita apa ke kamu. Kadang-kadang aku enggak ingat apa pun. Aku juga heran kenapa aku harus tinggal di Amerika. Aku pergi jauh banget, ya? Aku minta maaf, Nin.
Malam ini dingin. Aku ingat kamu. Aku ingat senyuman kamu yang manis. Kamu yang suka ngambek. Kamu yang suka tertawa.
Kamu pasti aman di Jakarta. Jaga kenangan-kenangan kita, ya. Kamu harus bahagia. Romeo ada di sana, kan?
Aku mau pamit, Nin. Aku mau pergi jauh. Ada yang nunggu aku di gunung itu.
Jangan tunggu aku lagi, ya. Aku sayang Elenina Tara.

Junior Andrian.

Nina melipat surat itu. Surat terakhir dari Juno. Nina sudah melihat Juno lagi. Dan ini benar-benar untuk yang terakhir kalinya. Penantiannya selesai. Juno sudah kembali. Tapi Juno pergi lagi. Untuk selamanya.
Nina menangis, tapi tersenyum di sela-sela tangisannya.
“Aku sayang kamu, Juno.”
Romeo memeluk bahu Nina. “Semoga Juno tenang di alam sana.”

***
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog