Sore
itu mendung, langitnya kelabu, anginnya menderu. Sepertinya hujan akan
turun—deras. Setelah membawaku ke sini—ke restoran seafood kesukaanmu, kamu masih diam, tidak bicara, selain
menyuruhku memesan sesuatu.
“Aku
tau kamu bingung, Yo. Tapi aku cuma mau ditemani. Boleh, kan?” katamu, tenang.
Aku
mengangguk. Berusaha menghabiskan kwetiau yang tersaji di depanku. Aku tahu ada
banyak hal-hal yang berada di luar dugaan. Sudah banyak keajaiban yang terjadi.
Dan sampai hari ini aku masih berharap.
Tiga
puluh menit dalam keheningan. Kamu duduk di depanku, menikmati cumi goreng
tepung. Tetap diam.
Al, kumohon bicaralah.
Aku memejamkan mata.
Seakan
Tuhan menjawab doaku. Aldi bersuara. “Terkadang manusia tidak memilih apa yang
dia cari. Namun manusia lebih memilih hal yang nyaman, dan merasa dicintai,”
katamu, pelan. Tapi aku dengar.
Aku
terhenyak. “Quote-nya bagus,”
kemudian aku tersenyum. “Wanna tell something?”
“Ya,”
katamu, mantap.
***
Aku
terbangun, mengerjap beberapa kali. Saat aku membuka mata, benda pertama yang
kucari adalah ponsel. Dan aku menemukannya di bawah tubuhku sendiri—tertindih. Hal
yang pertama kucari di layar adalah penunjuk waktu. Tertera—06:58.
Kemudian
kulihat beberapa notifikasi. Banyak pesan tapi aku malas membacanya. Sebagian
dari sahabat-sahabatku. Ada Rika, Adlin, dan Dea—sepertinya sisa chat semalam. Sebagian lagi jarkom dari teman-teman sekelasku. Dan
beberapa pesan dari seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi bar notifikasi-ku, dengan sapaan selamat
pagi-nya, ucapan pengantar tidur-nya, dan peringatan jangan lupa makan-nya.
Entah kenapa, itu tidak menarik.
Aku
membuka pesan dari salah satu teman sekelasku. Kubaca pesannya dengan seksama.
Setelah itu aku melempar ponsel ke atas ranjang.
Info! Besok kuliah psikologi
perkembangan di majuin jadi jam pertama.
—Fajar
Bagus.
Aku memaki. Lalu buru-buru mandi. Jam pertama itu artinya pukul 08:00. Jarak dari
rumah ke kampusku lumayan jauh, butuh waktu setengah jam dengan jasa abang
mikrolet. Sekarang sudah pukul 07:10 dan aku masih belum selesai mandi.
“Ma!
Papa kerja ya?” aku berlari-lari ke dapur mencari Mama.
Mama
sedang mengoleskan selai cokelat di atas roti. “Baru aja berangkat. Kamu kuliah
pagi, Yo?”
“Iya,
mendadak Ma,” aku menyambar roti yang baru diletakkan di piring, mencium tangan
Mama, lalu pergi secepatnya.
“Hati-hati,
Yo!” Mama berteriak, kudengar samar-samar dari pintu depan. Aku memakai sepatu
kets merah kesayanganku. Lalu berdiri di depan rumah menunggu mikrolet.
Lama.
Sekarang sudah pukul 07:35. Aku mulai panik, kulihat notifikasi yang sama.
Kubuka satu per satu. Dari Rika, pesan konyol, tidak penting, tapi aku tertawa.
Dari Adlin, rekomendasi kuliner enak, lumayan penting, aku jadi lapar. Dari
Dea, gosip baru tentang mahasiswi jurusan Biologi yang hamil, penting, tapi
tidak baik membicarakan orang lain di belakang.
Kubuka
beberapa lagi. Info yang sama dari teman-temen sekelas. Aku menyesal kenapa
semalam sampai ketiduran, akhirnya jadi ketinggalan informasi.
Dan
terakhir, dari kak Reno.
Yoana, kakak mungkin
belum sesempurna Aldi. Tapi kakak selalu berusaha jadi yang terbaik di mata
kamu, Yo. —yesterday 10:34
PM
Aku
tercengang. Aku sudah lama mengenal kak Reno, sejak SMP. Tapi tidak begitu
dekat. Akhir-akhir ini kak Reno mulai memperhatikanku secara berlebihan. Aku
tidak marah, hanya saja kurang nyaman.
Aku
baru putus dari Aldi, dia pacarku, tapi sekarang sudah bukan. Baru dua minggu
yang lalu kami mengakhiri hubungan kami. Tidak tahu siapa yang salah, mungkin
aku, dia, atau keadaan. Mungkin karena aku tidak jauh lebih baik dari Allisa—pacarnya
yang dulu. Ada hal-hal yang tidak pernah terduga. Kupikir Aldi adalah masa
depanku, tapi takdir berkata lain. Kami dipisahkan.
Sejak
saat itu kak Reno mulai mendekat. Dan aku selalu berusaha menjauh. Kak Reno
memang baik—sangat baik, ia ramah, tidak dingin seperti Aldi. Tapi ada satu hal
yang tidak bisa dilakukan orang lain selain Aldi.
Aldi
bisa membuatku tersenyum dengan begitu mudah. Itu saja.
Ponselku
berbunyi. Tertera sebuah nama pada layarnya—kak
Reno. Aku ragu, tapi pada akhirnya kutekan tombol hijau.
“Halo,
ada apa kak?” kataku, to the point.
“Tunggu
di depan rumah ya. Kakak mau jemput sekarang, udah deket kok,” kata kak Reno.
Aku
tercengang. Telepon sudah diputus. Dalam hitungan menit, Pajero putih sudah
melaju pelan dan berhenti tepat di depanku.
“Kakak
bisa ngebut kok. Ayo,” kak Reno menurunkan kaca mobilnya.
Aku
melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Kupikir tidak ada salahnya kak
Reno membantuku hari ini.
Akhirnya
aku masuk kelas tepat waktu. Dosen mata kuliah kali ini tidak punya toleransi
sama sekali. Kalau terlambat, sudah, tidak boleh masuk.
Setelah
kelas usai. Adlin mengajakku ke tempat yang semalam ia rekomendasikan. Mungkin
saatnya kuceritakan tentang kak Reno pada Adlin, karena yang kutahu Adlin juga dekat
dengan kak Reno.
Selesai
aku bercerita Adlin tertawa. Aku cemberut.
“Lo
tau nggak sih, Yo? Sebenernya kak Reno udah lama cerita ke gue, dia cerita
tentang lo. Gue sih jawab sejujurnya aja. Lo emang baru putus, lo galau, dan
entah kenapa dia beneran ngedeketin lo,” kata Adlin panjang lebar, tentu setelah
mengakhiri tawanya.
“Gue
juga bingung Dlin. Bukannya apa-apa, gue cuma takut nantinya kak Reno cuma jadi
pelampiasan aja,” kataku, frustasi.
“Pelampiasan?
Lo masih ada di bawah bayang-bayang Aldi, Yo. Sebenernya lo bisa,” Adlin mulai
ceramah.
“Gini,
Dlin. Kak Reno itu baik, bahkan terlalu baik. Tapi gue nggak bisa gitu aja
sayang sama dia. Gue cuma suka kak Reno sebagai kakak, sama kayak lo. Lagipula gue
nggak nyaman sama kak Reno,” kataku lagi, masih frustasi.
“Lo
punya tiga pilihan, Yo. Maju, mundur, atau tetap di tempat. Lo pikirin
baik-baik itu,” Adlin menatapku, yakin.
Aku
terdiam. Berpikir. “Mundur, Dlin,” kataku, pelan.
“Oke,
kalo gitu lo harus berani nolak kak Reno. Jalani sesuai apa kata hati lo. Hadapi
resiko apa pun yang bakal lo terima,” Adlin masih menatapku.
Aku
tersenyum. “Makasih ya Dlin.”
Bahkan
jika aku harus kehilangan orang yang benar-benar menyayangiku, tidak masalah. Aku
masih percaya pada keajaiban. Aku masih percaya Aldi akan tetap menempati
takhta tertinggi dalam kastil hatiku. Tidak jelas alasannya, tapi aku percaya.
Sore
ini aku menghubungi kak Reno. Aku harus menjelaskan segalanya, agar tidak ada
salah paham, agar tidak ada yang tersakiti.
Restoran
ini cukup mewah. Kak Reno membawaku ke sini. “Kak…”
“Ya?”
kak Reno menyahut, ia duduk di hadapanku.
Aku
menelan ludah, gugup. “To the point,
aku bukannya nggak suka sama kakak. Aku suka semua orang yang baik sama aku,
termasuk kakak. Tapi aku belum bisa sayang sama kakak. Aku takut ada yang
tersakiti di antara aku atau kak Reno, atau bahkan kita sama-sama sakit.”
Kak
Reno diam. “Nggak apa-apa, Yo. Kakak tetep nunggu kok.”
Aku
menangis. Aku sudah membulatkan keputusanku. Aku bisa menerima kak Reno kapan
pun. Tapi hatiku belum bergerak satu sentimeter pun untuk meninggalkan Aldi.
Aldi
masih tertahan. Dan aku masih berharap.
***
Gadis
itu masih terlihat sama. Mata bulatnya, bibirnya yang tipis, dan senyuman
ramahnya pada semua orang. Tadi aku melihatnya tersenyum pada tukang parkir
ketika menerima kartu parkir.
Ia
belum bicara padaku. Aku juga masih diam sejak menjemputnya tadi. Hanya
menyuruhnya memesan. Kupikir sudah waktunya aku jujur pada diriku sendiri.
Aku
masih mencintainya.
Tiga
minggu yang lalu kami mengakhiri hubungan kami. Kupikir hubungan ini sudah
tidak bisa dipertahankan. Ada banyak alasan dan aku sudah lelah. Mungkin ia
juga sama lelahnya. Jadi kami memutuskan untuk berpisah.
Aku
mencoba menemukan seseorang yang lain. Mencoba mencari sesuatu yang baru, yang
kupikir bisa membuatku melupakannya. Tapi entah kenapa ada ribuan perasaan aneh
yang muncul. Ada perasaan tidak nyaman. Berbeda ketika aku bersamanya—bersama
Yoana.
Aku
melihat wajahnya yang mungil. Ia terlihat kebingungan. “Aku tau kamu bingung,
Yo. Tapi aku cuma mau ditemani. Boleh, kan?” kataku, tenang.
Kulihat
ia hanya mengangguk. Aku merasa bodoh. Seharusnya aku tidak pernah menyia-nyiakan
dirinya. Karena aku menyadari sesuatu, aku sudah tertahan begitu erat di dalam kastilnya.
Kastil yang kini sudah terisi orang lain atau belum—aku belum tahu.
Ia
memejamkan matanya sebentar. Cantik, ia tidak berubah.
“Terkadang
manusia tidak memilih apa yang dia cari. Namun manusia lebih memilih hal yang
nyaman, dan merasa dicintai,” kataku, pelan.
Ia
terkesiap. “Quote-nya bagus,”
kemudian kulihat senyumannya lagi. “Wanna
tell something?” katanya.
“Ya,
“ kataku, mantap. Tapi sebenarnya aku bingung. Apa yang harus kuceritakan pada
Yoana.
Ia
masih menunggu.
“Aku
pun bingung. Setiap aku makan di ruang makan dan aku lihat dapur, aku selalu
punya perasaan tenang, perasaan yang nyaman. Bukan ke Allisa, walaupun dulu aku
lebih sering liat Allisa masak daripada kamu. Tapi entah kenapa perasaan nyaman
ini larinya selalu ke kamu. Langsung inget kamu. Kamu yang nggak bisa pake
celemek, kamu yang nggak bisa pegang pisau, dan selalu kamu, Yoana. Aku rasanya
mau ungkapin ini ke kamu, tapi aku nggak tau apa yang harus aku ungkapin. Aku
sendiri juga nggak ngerti ini apa, tapi entah kenapa ini ada hubungannya sama
kamu. Dan aku selalu nyaman kalo lagi ngerasain perasaan itu,” kataku panjang,
tidak memberikan jeda sama sekali.
Yoana
terkesiap. Kemudian menangis.
“Aku
sayang kamu. Aku cinta sama kamu, Yoana,” kataku. “Maaf kalo selama ini aku
belum bisa kasih sesuatu yang lebih.”
Yoana
terisak. Aku membiarkannya, aku tahu ia gadis yang cengeng, dan aku
menyukainya. Ia begitu jujur dan selalu percaya akan kata hatinya.
Yoana
menyambar tissue, lalu mengelap
hidungnya. “Ini emang kedengerannya naif, tapi aku nggak minta apa pun, Al.
Selama ini udah lebih dari cukup.”
“Maaf
aku selalu bikin kamu sedih, tapi aku nggak pernah mau lihat kamu sedih. Aku
mau kamu bahagia terus. Mulai sekarang, sampe kita tua nanti,” aku menghampiri
Yoana. Memeluknya erat. Tidak peduli seluruh pengunjung restoran ini
memperhatikan kami.
Yoana
tersenyum. “Aku percaya sama kamu, Al.”
***
“Aku
percaya sama kamu, Al,” kataku, bahagia.
Kamu
menatapku. “Aku udah siapin ini, bahkan sebelum kita putus,” katamu sambil
merogoh saku, mengeluarkan kotak beludru merah, kemudian membukanya. Kulihat sebuah
cincin perak di kotak itu. “Aku mau cobain masakan kamu setiap harinya, kamu
mau?” kamu tersenyum, meraih jemariku, dan melingkarkan cincin perak itu.
Aku
terkesiap—entah untuk yang ke berapa kalinya. Aku tidak bisa mengungkapkan apa
pun. Tapi aku semakin yakin. Keajaiban itu ada.
Aku
mengangguk. “Aku mau, Al.”
Ini
seperti cerita di film-film, semua mata menghujani kita—aku dan kamu, kemudian
mereka semua bertepuk tangan sambil bersorak-sorak.
Aku
hanya tersenyum. Tukang parkir tadi bersiul-siul sambil bertepuk tangan.
Kamu
duduk di tempatmu lagi—di hadapanku. Wajahmu bersemu merah. Kamu itu dingin,
tidak pernah suka keramain. Tapi baru saja kamu melakukannya untukku, di tengah
keramaian seperti ini. Aku semakin yakin,
Al.
Aku
hanya bisa berdoa untuk hubungan ini. Amin-kan
saja doaku, kumohon.
***