Sunday, June 2, 2013

Comfortable



Sore itu mendung, langitnya kelabu, anginnya menderu. Sepertinya hujan akan turun—deras. Setelah membawaku ke sini—ke restoran seafood kesukaanmu, kamu masih diam, tidak bicara, selain menyuruhku memesan sesuatu.
“Aku tau kamu bingung, Yo. Tapi aku cuma mau ditemani. Boleh, kan?” katamu, tenang.
Aku mengangguk. Berusaha menghabiskan kwetiau yang tersaji di depanku. Aku tahu ada banyak hal-hal yang berada di luar dugaan. Sudah banyak keajaiban yang terjadi. Dan sampai hari ini aku masih berharap.
Tiga puluh menit dalam keheningan. Kamu duduk di depanku, menikmati cumi goreng tepung. Tetap diam.
Al, kumohon bicaralah. Aku memejamkan mata.
Seakan Tuhan menjawab doaku. Aldi bersuara. “Terkadang manusia tidak memilih apa yang dia cari. Namun manusia lebih memilih hal yang nyaman, dan merasa dicintai,” katamu, pelan. Tapi aku dengar.
Aku terhenyak. “Quote-nya bagus,” kemudian aku tersenyum. “Wanna tell something?”
“Ya,” katamu, mantap.

***
Aku terbangun, mengerjap beberapa kali. Saat aku membuka mata, benda pertama yang kucari adalah ponsel. Dan aku menemukannya di bawah tubuhku sendiri—tertindih. Hal yang pertama kucari di layar adalah penunjuk waktu. Tertera—06:58.
Kemudian kulihat beberapa notifikasi. Banyak pesan tapi aku malas membacanya. Sebagian dari sahabat-sahabatku. Ada Rika, Adlin, dan Dea—sepertinya sisa chat semalam. Sebagian lagi jarkom dari teman-teman sekelasku. Dan beberapa pesan dari seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi bar notifikasi-ku, dengan sapaan selamat pagi-nya, ucapan pengantar tidur-nya, dan peringatan jangan lupa makan-nya. Entah kenapa, itu tidak menarik.
Aku membuka pesan dari salah satu teman sekelasku. Kubaca pesannya dengan seksama. Setelah itu aku melempar ponsel ke atas ranjang.
Info! Besok kuliah psikologi perkembangan di majuin jadi jam pertama.
 —Fajar
Bagus. Aku memaki. Lalu buru-buru mandi. Jam pertama itu artinya pukul 08:00. Jarak dari rumah ke kampusku lumayan jauh, butuh waktu setengah jam dengan jasa abang mikrolet. Sekarang sudah pukul 07:10 dan aku masih belum selesai mandi.
“Ma! Papa kerja ya?” aku berlari-lari ke dapur mencari Mama.
Mama sedang mengoleskan selai cokelat di atas roti. “Baru aja berangkat. Kamu kuliah pagi, Yo?”
“Iya, mendadak Ma,” aku menyambar roti yang baru diletakkan di piring, mencium tangan Mama, lalu pergi secepatnya.
“Hati-hati, Yo!” Mama berteriak, kudengar samar-samar dari pintu depan. Aku memakai sepatu kets merah kesayanganku. Lalu berdiri di depan rumah menunggu mikrolet.
Lama. Sekarang sudah pukul 07:35. Aku mulai panik, kulihat notifikasi yang sama. Kubuka satu per satu. Dari Rika, pesan konyol, tidak penting, tapi aku tertawa. Dari Adlin, rekomendasi kuliner enak, lumayan penting, aku jadi lapar. Dari Dea, gosip baru tentang mahasiswi jurusan Biologi yang hamil, penting, tapi tidak baik membicarakan orang lain di belakang.
Kubuka beberapa lagi. Info yang sama dari teman-temen sekelas. Aku menyesal kenapa semalam sampai ketiduran, akhirnya jadi ketinggalan informasi.
Dan terakhir, dari kak Reno.
Yoana, kakak mungkin belum sesempurna Aldi. Tapi kakak selalu berusaha jadi yang terbaik di mata kamu, Yo.yesterday 10:34 PM
Aku tercengang. Aku sudah lama mengenal kak Reno, sejak SMP. Tapi tidak begitu dekat. Akhir-akhir ini kak Reno mulai memperhatikanku secara berlebihan. Aku tidak marah, hanya saja kurang nyaman.
Aku baru putus dari Aldi, dia pacarku, tapi sekarang sudah bukan. Baru dua minggu yang lalu kami mengakhiri hubungan kami. Tidak tahu siapa yang salah, mungkin aku, dia, atau keadaan. Mungkin karena aku tidak jauh lebih baik dari Allisa—pacarnya yang dulu. Ada hal-hal yang tidak pernah terduga. Kupikir Aldi adalah masa depanku, tapi takdir berkata lain. Kami dipisahkan.
Sejak saat itu kak Reno mulai mendekat. Dan aku selalu berusaha menjauh. Kak Reno memang baik—sangat baik, ia ramah, tidak dingin seperti Aldi. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan orang lain selain Aldi.
Aldi bisa membuatku tersenyum dengan begitu mudah. Itu saja.
Ponselku berbunyi. Tertera sebuah nama pada layarnya—kak Reno. Aku ragu, tapi pada akhirnya kutekan tombol hijau.
“Halo, ada apa kak?” kataku, to the point.
“Tunggu di depan rumah ya. Kakak mau jemput sekarang, udah deket kok,” kata kak Reno.
Aku tercengang. Telepon sudah diputus. Dalam hitungan menit, Pajero putih sudah melaju pelan dan berhenti tepat di depanku.
“Kakak bisa ngebut kok. Ayo,” kak Reno menurunkan kaca mobilnya.
Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Kupikir tidak ada salahnya kak Reno membantuku hari ini.
Akhirnya aku masuk kelas tepat waktu. Dosen mata kuliah kali ini tidak punya toleransi sama sekali. Kalau terlambat, sudah, tidak boleh masuk.
Setelah kelas usai. Adlin mengajakku ke tempat yang semalam ia rekomendasikan. Mungkin saatnya kuceritakan tentang kak Reno pada Adlin, karena yang kutahu Adlin juga dekat dengan kak Reno.
Selesai aku bercerita Adlin tertawa. Aku cemberut.
“Lo tau nggak sih, Yo? Sebenernya kak Reno udah lama cerita ke gue, dia cerita tentang lo. Gue sih jawab sejujurnya aja. Lo emang baru putus, lo galau, dan entah kenapa dia beneran ngedeketin lo,” kata Adlin panjang lebar, tentu setelah mengakhiri tawanya.
“Gue juga bingung Dlin. Bukannya apa-apa, gue cuma takut nantinya kak Reno cuma jadi pelampiasan aja,” kataku, frustasi.
“Pelampiasan? Lo masih ada di bawah bayang-bayang Aldi, Yo. Sebenernya lo bisa,” Adlin mulai ceramah.
“Gini, Dlin. Kak Reno itu baik, bahkan terlalu baik. Tapi gue nggak bisa gitu aja sayang sama dia. Gue cuma suka kak Reno sebagai kakak, sama kayak lo. Lagipula gue nggak nyaman sama kak Reno,” kataku lagi, masih frustasi.
“Lo punya tiga pilihan, Yo. Maju, mundur, atau tetap di tempat. Lo pikirin baik-baik itu,” Adlin menatapku, yakin.
Aku terdiam. Berpikir. “Mundur, Dlin,” kataku, pelan.
“Oke, kalo gitu lo harus berani nolak kak Reno. Jalani sesuai apa kata hati lo. Hadapi resiko apa pun yang bakal lo terima,” Adlin masih menatapku.
Aku tersenyum. “Makasih ya Dlin.”
Bahkan jika aku harus kehilangan orang yang benar-benar menyayangiku, tidak masalah. Aku masih percaya pada keajaiban. Aku masih percaya Aldi akan tetap menempati takhta tertinggi dalam kastil hatiku. Tidak jelas alasannya, tapi aku percaya.
Sore ini aku menghubungi kak Reno. Aku harus menjelaskan segalanya, agar tidak ada salah paham, agar tidak ada yang tersakiti.
Restoran ini cukup mewah. Kak Reno membawaku ke sini. “Kak…”
“Ya?” kak Reno menyahut, ia duduk di hadapanku.
Aku menelan ludah, gugup. “To the point, aku bukannya nggak suka sama kakak. Aku suka semua orang yang baik sama aku, termasuk kakak. Tapi aku belum bisa sayang sama kakak. Aku takut ada yang tersakiti di antara aku atau kak Reno, atau bahkan kita sama-sama sakit.”
Kak Reno diam. “Nggak apa-apa, Yo. Kakak tetep nunggu kok.”
Aku menangis. Aku sudah membulatkan keputusanku. Aku bisa menerima kak Reno kapan pun. Tapi hatiku belum bergerak satu sentimeter pun untuk meninggalkan Aldi.
Aldi masih tertahan. Dan aku masih berharap.

***
Gadis itu masih terlihat sama. Mata bulatnya, bibirnya yang tipis, dan senyuman ramahnya pada semua orang. Tadi aku melihatnya tersenyum pada tukang parkir ketika menerima kartu parkir.
Ia belum bicara padaku. Aku juga masih diam sejak menjemputnya tadi. Hanya menyuruhnya memesan. Kupikir sudah waktunya aku jujur pada diriku sendiri.
Aku masih mencintainya.
Tiga minggu yang lalu kami mengakhiri hubungan kami. Kupikir hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan. Ada banyak alasan dan aku sudah lelah. Mungkin ia juga sama lelahnya. Jadi kami memutuskan untuk berpisah.
Aku mencoba menemukan seseorang yang lain. Mencoba mencari sesuatu yang baru, yang kupikir bisa membuatku melupakannya. Tapi entah kenapa ada ribuan perasaan aneh yang muncul. Ada perasaan tidak nyaman. Berbeda ketika aku bersamanya—bersama Yoana.
Aku melihat wajahnya yang mungil. Ia terlihat kebingungan. “Aku tau kamu bingung, Yo. Tapi aku cuma mau ditemani. Boleh, kan?” kataku, tenang.
Kulihat ia hanya mengangguk. Aku merasa bodoh. Seharusnya aku tidak pernah menyia-nyiakan dirinya. Karena aku menyadari sesuatu, aku sudah tertahan begitu erat di dalam kastilnya. Kastil yang kini sudah terisi orang lain atau belum—aku belum tahu.
Ia memejamkan matanya sebentar. Cantik, ia tidak berubah.
“Terkadang manusia tidak memilih apa yang dia cari. Namun manusia lebih memilih hal yang nyaman, dan merasa dicintai,” kataku, pelan.
Ia terkesiap. “Quote-nya bagus,” kemudian kulihat senyumannya lagi. “Wanna tell something?” katanya.
“Ya, “ kataku, mantap. Tapi sebenarnya aku bingung. Apa yang harus kuceritakan pada Yoana.
Ia masih menunggu.
“Aku pun bingung. Setiap aku makan di ruang makan dan aku lihat dapur, aku selalu punya perasaan tenang, perasaan yang nyaman. Bukan ke Allisa, walaupun dulu aku lebih sering liat Allisa masak daripada kamu. Tapi entah kenapa perasaan nyaman ini larinya selalu ke kamu. Langsung inget kamu. Kamu yang nggak bisa pake celemek, kamu yang nggak bisa pegang pisau, dan selalu kamu, Yoana. Aku rasanya mau ungkapin ini ke kamu, tapi aku nggak tau apa yang harus aku ungkapin. Aku sendiri juga nggak ngerti ini apa, tapi entah kenapa ini ada hubungannya sama kamu. Dan aku selalu nyaman kalo lagi ngerasain perasaan itu,” kataku panjang, tidak memberikan jeda sama sekali.
Yoana terkesiap. Kemudian menangis.
“Aku sayang kamu. Aku cinta sama kamu, Yoana,” kataku. “Maaf kalo selama ini aku belum bisa kasih sesuatu yang lebih.”
Yoana terisak. Aku membiarkannya, aku tahu ia gadis yang cengeng, dan aku menyukainya. Ia begitu jujur dan selalu percaya akan kata hatinya.
Yoana menyambar tissue, lalu mengelap hidungnya. “Ini emang kedengerannya naif, tapi aku nggak minta apa pun, Al. Selama ini udah lebih dari cukup.”
“Maaf aku selalu bikin kamu sedih, tapi aku nggak pernah mau lihat kamu sedih. Aku mau kamu bahagia terus. Mulai sekarang, sampe kita tua nanti,” aku menghampiri Yoana. Memeluknya erat. Tidak peduli seluruh pengunjung restoran ini memperhatikan kami.
Yoana tersenyum. “Aku percaya sama kamu, Al.”

***
“Aku percaya sama kamu, Al,” kataku, bahagia.
Kamu menatapku. “Aku udah siapin ini, bahkan sebelum kita putus,” katamu sambil merogoh saku, mengeluarkan kotak beludru merah, kemudian membukanya. Kulihat sebuah cincin perak di kotak itu. “Aku mau cobain masakan kamu setiap harinya, kamu mau?” kamu tersenyum, meraih jemariku, dan melingkarkan cincin perak itu.
Aku terkesiap—entah untuk yang ke berapa kalinya. Aku tidak bisa mengungkapkan apa pun. Tapi aku semakin yakin. Keajaiban itu ada.
Aku mengangguk. “Aku mau, Al.”
Ini seperti cerita di film-film, semua mata menghujani kita—aku dan kamu, kemudian mereka semua bertepuk tangan sambil bersorak-sorak.
Aku hanya tersenyum. Tukang parkir tadi bersiul-siul sambil bertepuk tangan.
Kamu duduk di tempatmu lagi—di hadapanku. Wajahmu bersemu merah. Kamu itu dingin, tidak pernah suka keramain. Tapi baru saja kamu melakukannya untukku, di tengah keramaian seperti ini. Aku semakin yakin, Al.
Aku hanya bisa berdoa untuk hubungan ini. Amin-kan saja doaku, kumohon.

***

0 comments:

Post a Comment

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog