Sinar
matahari perlahan menghilang di balik gedung-gedung pencakar langit yang
semakin membuat semarak kota Jakarta. Sore ini udaranya lembab. Habis hujan.
Nina duduk di belakang setir, pandangannya fokus ke depan. Jumat sore ini di
sepanjang ruas jalan Sudirman menuju Semanggi dipenuhi entah berapa ratus
kendaraan. Nina melengos. Menyambar blackberrynya
yang berkedip berkali-kali.
Nin, you okay?
Can you tell me the truth?
“No. I can’t.” kata Nina. Sambil melempar
ponselnya ke jok di sebelahnya.
Pesan-pesan
itu ia terima dari Romeo. Laki-laki yang ia temui di Bundaran HI dalam acara
penggalangan dana untuk korban banjir di Jakarta pada awal tahun 2013. Dan
setelah itu Romeo berhasil mengisi dan mewarnai hidupnya.
Romeo
adalah laki-laki yang baik. Sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Nina.
Nina sadar kini ia sudah terkunci. Romeo tidak semata-mata membuka hatinya
untuk Nina tanpa Nina harus tinggal di dalamnya. Nina tahu. Ia harus ada di
sana. Sayangnya, Nina tidak benar-benar tinggal di sana.
Ponsel
Nina berbunyi. Nina mengabaikannya. Ia yakin itu panggilan dari Romeo. Untuk
hari ini saja, ia tidak ingin menjalani kehidupan normalnya. Kehidupannya yang
berwarna. Nina melihat sekeliling. Mobilnya masih terjebak dalam kemacetan yang
mengular di sepanjang jalan Sudirman. Tiba-tiba sebuah tulisan tertangkap matanya.
Ratu Plaza.
Tangannya
bergerak cepat mengikuti keinginan otaknya. Reseptornya bekerja cepat. Memutar
setir dan membelokkan mobilnya ke arah pintu masuk Ratu Plaza.
Lima
tahun yang lalu ia pernah ke tempat ini. Waktu itu hari sabtu. Kakinya
melangkah lebar-lebar menuruni jembatan penyebrangan di depan Ratu Plaza. Berjalan
beriringan melewati pedagang-pedagang di bawah jembatan.
Nina
memarkir mobilnya. Jalanan terlihat masih padat. Tidak ada salahnya sore ini ia
berjalan-jalan di sepanjang trotoar jalan Sudirman itu.
Ia
tersenyum. Meninggalkan ponselnya di mobil. Hari ini ia ingin bermain. Bermain
dalam masa lalunya. Menelusuri bayang-bayang kenangannya. Tahun-tahun ketika ia
masih memakai seragam putih abu-abu. Tahun-tahun ketika ia menemukan seseorang
yang membuat hidupnya lengkap.
Junior
Andrian. Juno, begitulah ia memanggilnya.
***
Nina
berjalan ke bawah jembatan penyebrangan di depan Ratu Plaza. Mencicipi jajanan
pinggir jalan yang berjajar di sana. Padahal, dulu waktu masih bersama Juno,
Nina tidak pernah mau menyentuh jajanan pinggir jalan itu.
Nina
mengingat percakapannya dengan Juno waktu itu. Sambil menikmati tahu isi dan
pastel yang baru saja ia beli. Pikirannya perlahan-lahan terbang ke masa lalu.
“Jangan makan jajanan di pinggir jalan.
Itu pasti minyak gorengnya dipakai berkali-kali. Terus itu pasti ada cacingnya,”
kata Nina.
“Tapi enak, gurih juga, Nin. Lagian enggak
ada cacingnya kok, coba nih lihat tahu isi aku,” tantang Juno.
“Bukan cacing yang menggeliat itu, No. Cacing
ini bakteri. Kamu tahu enggak kenapa gorengan pinggir jalan itu gurih?” tanya
Nina sambil melirik Juno yang masih sibuk menjejalkan tahu isi ke mulutnya.
Juno menggeleng. “Apa?”
“Ada plastiknya.” Jawab Nina.
“Berarti orang-orang yang makan gorengan
itu keren, bisa makan plastik. Kalo minyak goreng yang ada belingnya, ada enggak?
Biar aku makan beling, kayak kuda lumping.” Kata Juno.
Nina merengut sambil menahan tawa.
“Udah habis, nih. Aku udah lahap semua
plastiknya. Aku keren, kan?” kata Juno sambil berkacak pinggang.
“Iya. Kamu keren. Besok kamu masuk rumah
sakit.” Semprot Nina kesal.
Juno melirik Nina di sampingnya. Sambil
tersenyum, “Jelek kamu kalo ngambek.”
“Biar jelek, yang penting sehat.” Nina
melengos.
“Nina, aku tahu kamu punya trauma soal
jajanan pinggir jalan. Tapi tenang aja, aku jaga kesehatan kok. Biar bisa hidup
lebih lama sama kamu.” Juno mengedipkan satu matanya.
Nina akhirnya tertawa. “Gombal, kamu.”
Nina
tersenyum di sepanjang trotoar. Melewati gerobak-gerobak yang menjual nasi
goreng, ketoprak, bakso, dan makanan lainnya yang dulu sering Juno beli.
Langkah
Nina berhenti di depan halte Gelora Bung Karno. Kebetulan bapak yang sering
bermain biola ada di sana. Nina menghampiri bapak itu dan tersenyum.
“Mau
Pachelbel, pak.” Kata Nina.
Bapak
itu tersenyum, kemudian menggesek biolanya perlahan. Mengalunkan sebuah musik
klasik dari Pachelbel.
Nina
diam. Berdiri mematung sambil melihat permainan biola bapak yang usianya sudah
hampir senja itu. Tempat yang sama. Bapak yang sama. Hanya Nina yang tidak lagi
sama. Ia tidak lagi bersama Juno.
“Juno, kamu masih ingat?” batin Nina
bertanya.
Bapak
itu menyelesaikan permainannya. “Sudah selesai, mbak. Mau yang lain?”
Nina
menggeleng, “Terima kasih, pak. Ini untuk anak bapak.” Kata Nina, kemudian
menyerahkan selembar uang seratus ribuan ke tangan bapak itu.
“Terima
kasih, mbak.” Bapak itu terlihat bahagia. Nina hanya tersenyum. Kemudian
berjalan lagi menuju satu tempat yang selalu membuatnya kuat menghadapi
hari-hari tanpa Juno. Meski selalu diiringi tangisan.
Jakarta
sudah mulai gelap. Kepadatan lalu lintas di jalan Sudirman masih belum
berkurang. Nina berjalan melewati Depdiknas, Outback Steakhouse, Ratu Plaza,
dan masuk menuju komplek Plaza Senayan.
Kemudian
memasuki kawasan apartemen yang banyak dihuni oleh kalangan ekspatriat. Setelah
melewati pelataran parkir, Nina berjalan ke dalam pusat perbelanjaan yang
menorehkan banyak kenangan tentang Juno itu.
Kaki
Nina masih melangkah. Menuju tempat yang paling ia suka. Nina berdiri di
hadapan jam besar keemasan yang bernama Marygold Clock. Nina tersenyum. Ia
datang di saat yang tepat. Marygold Clock itu sedang terbuka. Enam patung
pemusiknya muncul dan memainkan musik yang menyenangkan. Nina pernah berdiri di
tempat yang sama. Bersama Juno.
“Kalau di rumahku ada jam sebesar itu,
mungkin aku enggak akan terlambat masuk sekolah.” Kata Juno.
“Aku enggak percaya.” Celetuk Nina.
“Kenapa?” tanya Juno.
“Karna musiknya enak buat tidur lagi.”
jawab Nina.
“Itu sih, kamu. Aku kan enggak suka musik
begituan. Nanti aku ganti musiknya pake lagu-lagunya Radiohead, 30 Seconds to
Mars, atau Burgerkill. Pasti keren.” Kata Juno sambil bergaya menabuh drum.
Nina tertawa. “Norak, ih!”
Nina
tersenyum. Selesai menikmati musik dari Marygold Clock itu mata Nina menjelajah.
Menelusuri pelataran atrium Plaza Senayan yang kini diisi oleh beberapa mobil
mewah. Dulu, waktu ia bersama Juno, atrium itu juga dipenuhi mobil mewah. Saat
itu mereka berencana membeli salah satu mobil mewah yang berjajar di sana dengan
uang tabungan mereka berdua. Sampai saat ini, Nina masih menabung.
“Juno, kamu masih ingat?” batin Nina
lagi.
Nina
berjalan lagi. Turun melalui eskalator. Menyusuri jajaran toko dengan brand terkenal. Kemudian keluar menuju
pelataran Plaza Senayan.
Nina
sampai di pelataran itu. Duduk di sana sendirian. Tidak banyak orang-orang yang
duduk di sana. Hanya ada beberapa anak muda yang sedang memotret.
Di pelataran itu ia bisa duduk berjam-jam.
Mendengarkan musik klasik dan menikmati pertunjukan air mancur di sana.
Meski
gerimis. Air mancur di pelataran Plaza Senayan itu masih sama. Turun dan naik.
Meliuk diiringi musik klasik. Pelataran itu gelap. Nina menghadap ke arah gedung-gedung
yang seakan bercahaya di malam hari. Pemandangan yang sama seperti lima tahun
yang lalu. Hanya saja kali ini Nina sendirian. Tidak lagi ditemani Juno.
Nina
mengingat tahun-tahun ketika ia mencari Juno. Tidak pernah menerima kabar apa
pun. Sampai akhirnya ia mulai bosan. Sudah mulai tertekan keadaan.
Nina
menerima Romeo dan menjalani hidupnya lagi secara normal. Dan hatinya kembali
terisi setelah ia kehilangan Juno. Romeo bisa membuatnya berhenti sejenak
melupakan Juno. Meski terkadang dalam suatu hari Nina akan menghilang.
Menyendiri di pelataran Plaza Senayan. Menggali kenangan-kenangannya bersama
Juno di sana. Seperti saat ini.
Pikiran
Nina melayang mengingat e-mail
terakhir yang Juno kirimkan. Waktu itu Nina menelepon. Juno menjawab singkat,
katanya ia sibuk. Nina tidak marah, ia mengerti mungkin Juno sedang banyak
tugas. Selama beberapa minggu Nina tidak mengirim e-mail untuk Juno. Nina hanya mengirim beberapa pesan di BBM menyemangati
Juno. Pada akhirnya pesan-pesan di BBM itu juga tidak pernah berbalas.
Minggu, 21 Oktober 2012
From : Junior Andrian
To : Elenina Tara
Subject : Jenuh
Aku
jenuh. Minggu depan aku mau liburan. Aku harap kamu ngerti.
Sejak
itu tidak ada lagi pesan singkat, telepon, atau e-mail dari Juno. Juno menghilang. Selama satu bulan Nina menunggu,
akhirnya Nina pergi ke rumah Juno dan menemukan rumah itu sudah kosong.
Saat
ini Nina sudah menangis. Menutup mulutnya, menahan agar isakannya tidak
terdengar. Nina menangisi tahun-tahun yang membuatnya menunggu. Begitu berat
dan lelah. Tidak pernah ada kabar. Bahkan sampai hari ini.
Minggu,
6 Januari 2013
From : Elenina Tara
To
: Junior Andrian
Subject : Ulang tahun
Sudah
Januari, kamu harusnya pulang. Dan hari ini aku ulang tahun, No. Kamu enggak
ada kabar. Aku enggak tahu harus hubungi siapa. Selama satu bulan kemarin,
setiap hari, aku ke rumah kamu. Enggak pernah ada jawaban. Semesta ini
bersekongkol menyembunyikan kamu, No. Kamu di mana?
Minggu,
7 Juli 2013
From : Elenina Tara
To
: Junior Andrian
Subject : Di mana?
Kamu
di mana Junior Andrian? Harusnya kamu sudah pulang ke Jakarta. Siapa yang
menahanmu di Malang, No? Aku benci memikirkan hal yang aneh-aneh.
Rabu,
21 November 2013
From : Elenina Tara
To
: Junior Andrian
Subject : Satu tahun
Aku
nunggu selama ini, No. Aku lelah. Kamu benar-benar hilang. Tidak ada yang tahu
kamu di mana. Kamu pergi ke mana, Juno? Mungkin aku harus berhenti. Ada banyak
kemungkinan dan aku benci menebak. Suatu hari, kalau kamu mau kembali ke
Jakarta. Hubungi aku. Aku masih di Jakarta.
Nina pernah pergi ke Malang. Naik
pesawat sendirian. Memberanikan diri mencari Juno. Mendatangi rumah kos Juno.
Tapi Rumah kos itu kosong, tidak ada siapa pun. Nina bertanya pada orang-orang
di sana. Kata mereka, sudah satu tahun rumah kos itu kosong. Tidak ada
penghuninya. Nina menggigit bibirnya dan mengerjapkan matanya berkali-kali
menahan air matanya agar tidak tumpah.
Nina meremas kertas yang berisi alamat
rumah kos Juno. Melemparnya ke tanah. Setelah berterima kasih pada orang-orang
di sana. Nina pergi, masuk ke dalam taksi dan menangis sejadi-jadinya.
Sampai akhirnya sopir taksi bertanya
tujuannya ke mana.
Nina kembali ke Jakarta dengan pesawat
malam itu. Lalu dimarahi kedua orang tuanya.
“Juno,
kapan kamu pulang?” kata Nina lirih.
“Juno,
aku masih di Jakarta. Belum pergi ke mana pun. Tapi kamu belum kembali.”
lanjutnya. Menggenggam erat ujung rok yang ia pakai. Menahan sakit yang
bertahun-tahun ini ia pendam bersama bayang-bayang Juno.
“Nin…”
sebuah suara memanggilnya lirih.
Nina
menoleh ke belakang. Di sana ada Romeo.
Nina
berdiri, berjalan menghampiri Romeo. “How
you find me?”
“Juno.”
Jawab Romeo.
Seketika
tubuhnya menggigil. Merasakan rasa nyeri yang tiba-tiba menjalari hatinya.
Nina
tercengang.
“Rom,
kamu tahu Juno?” tanyanya hati-hati.
“Ayo
berteduh dulu. Mau hujan,” Romeo menggiring Nina dan memeluk bahu Nina. Menuju
area yang bisa melindungi mereka dari gerimis yang perlahan-lahan menjadi hujan
besar.
“Pakai
jasku.” Romeo melepas jas putih yang ia kenakan. Memakaikan pada Nina. Tadi, ia
tidak sempat melepas jas labnya. Segera setelah praktikum selesai ia berlari
mengemudikan mobilnya. Menghadapi macetnya Jakarta. Kemudian menemukan Nina duduk sendirian di
pelataran air mancur ini.
Nina
pasrah. Pikirannya kacau. Tubuhnya menggigil. Bukan karena percikan air hujan
atau angin malam yang menerpanya sejak tadi. Melainkan karena Juno.
Juno
memenuhi pikiran Nina. “Kamu sebenarnya
ada di mana, No?” batin Nina.
Romeo
membawa Nina masuk ke dalam restoran yang terdekat. Setelah mendapat tempat
duduk. Romeo memesan cokelat hangat untuk Nina. Nina masih diam. Menunduk.
Romeo tahu Nina tidak dalam kondisi yang baik.
“Nin…”
panggil Romeo lembut.
Nina
masih menunduk. Tidak menjawab.
“Look at my eyes, Nin.” Kata Romeo sambil
memegang kedua pipi Nina.
“Romeo,
kamu tahu apa tentang Juno?” akhirnya Nina berhasil membuka mulutnya. Mengeluarkan
pertanyaan sakral itu.
“Nina,
mungkin hari ini saatnya kamu tahu. Selama ini aku sembunyikan banyak rahasia
dari kamu. Aku tahu ini bukan cara yang terbaik. Tapi ini keinginan Juno. Keinginan
sahabatku.” Kata Romeo.
Nina
semakin tercengang. Air matanya turun.
“Aku
minta maaf, Nin.” Kata Romeo lirih.
“Kamu
tahu di mana Juno sekarang, Rom?” tanya Nina sambil terisak. Pada akhirnya ia
tahu kepada siapa ia bisa menanyakan di mana keberadaan Juno.
“Juno
menitipkan ini. Sebulan sebelum kita bertemu di Bundaran HI tiga tahun yang
lalu. Pertemuan yang direncanakan. Yang tidak pernah kamu ketahui selama ini.”
Romeo
menahan nafasnya. Kalimat demi kalimat yang ia keluarkan malam ini begitu
menekan paru-parunya.
Nina
tidak berekspresi. Menerima kertas yang sudah kusam dari tangan Romeo. Kertas
itu sudah disimpan begitu lama di dalam saku
kemeja yang dikenakan Romeo atau saku-saku celana yang Romeo pakai. Setiap
hari. Selama bertahun-tahun.
Nina
membuka kertas kusam itu. Ada tulisan tangan Juno di sana. Tulisan Juno yang
jelek. Tulisan Juno yang selalu Nina lihat di lembar-lembar buku pelajarannya.
Nina
anak FK Trisakti. Nina suka musik klasik. Nina tergila-gila sama Pachelbel. Nina
suka ke Plaza Senayan, paling suka liat Marygold Clock di sana. Habis itu dia ke air mancur di
pelataran Plaza Senayan, duduk di sana, lama. Nina suka nungguin bapak tua di
jembatan penyebrangan depan GBK. Nina benci jajanan pinggir jalan. Nina itu
manusia higienis. Nina terkadang bawel. Nina suka cerita apa pun yang dia anggap
menarik. Nina geli kalau denger gombalan laki-laki. Mudah membuat Nina
tersenyum. Dan… Nina suka tertawa.
Gue
percaya sama lo, Rom. Jaga Nina. –Junior
Tubuh
Nina melemas. Kertas kusam berisi tulisan tangan Juno itu terlepas dari
tangannya. Jatuh di atas meja.
“Nina, aku tahu kenapa kamu diam waktu
Marygold Clock itu berbunyi. Bukan karena kamu terpana sama enam patung pemusik
yang memainkan musik berbeda-beda itu, kan? Bukan karena itu. Aku tahu, Nina.”
Kata Romeo.
“Karena
Juno.” Sahut Nina. Suaranya tercekat ketika menyebutkan nama itu.
“Banyak
yang Juno sembunyikan, Nin. Dari kamu, dari sahabat-sahabatnya,” kata Romeo.
Matanya menelusuri mata Nina yang semakin lama semakin berair.
“Romeo, tell
me the truth.” Kata Nina. Penuh penekanan.
“Di
tahun-tahun pertama Juno kuliah, dia ikut pendakian ke Semeru. Kamu tahu enggak,
berita tentang insiden hilangnya seorang mahasiswa Unibraw waktu itu? November
2012, kamu pernah tahu, Nin?” kata Romeo.
Nina
menggeleng, “Lalu?”
“Memang,
beritanya enggak begitu meluas. Soalnya mahasiswa itu langsung bisa ditemukan,”
Nina
memotong. “Mahasiswa itu Juno, kan?”
Romeo
mengangguk.
“Juno
hilang selama empat hari. Kemudian ditemukan di Jurang Semeru. Wajahnya lelah.
Sewaktu ditanya tim SAR, Juno linglung. Sedikit hal yang bisa dia ingat. Salah
satunya nama Nina. Aku dengar ini dari Mama Juno yang menitipkan kertas berisi
tulisan tangan Juno tadi.” Ungkap Romeo.
Nina
menangis. “Sekarang Juno ada di mana, Rom?” ia terisak.
“Juno
tinggal di Amerika. Keluarganya pindah ke sana. Seminggu setelah kejadian itu,
Juno meninggalkan Indonesia. Sampai hari ini, tidak pernah kembali.”
Pikiran
Nina melayang. Mengingat tahun-tahun ketika ia menunggu kabar dari Juno. Setiap
hari datang ke rumah Juno yang halamannya sudah ditumbuhi rumput liar, keran airnya
rusak, dan sebuah sepeda yang dulu sering di pakai Juno semakin lama semakin
berkarat. Pada akhirnya, penantian itu tidak pernah selesai. Sampai hari ini.
“Sayangnya,
Juno enggak bisa kasih tahu kamu langsung. Dia mengalami trauma dan diserang depresi
ringan. Orang tua Juno enggak mau anaknya berhubungan lagi sama Indonesia. Ada
beberapa hal mistis yang enggak bisa terdefinisi sama logika kita, Nin.” Kata
Romeo.
“Mama
Juno bilang, satu-satunya orang yang tahu kabar Juno dan kepindahannya waktu itu
cuma aku. Entah apa alasannya. Tapi seminggu setelah kepindahannya ke Amerika,
aku terima panggilan telepon dari Juno…”
“Gimana
keadaannya waktu itu?” sela Nina. Perasaannya kalut. Setiap kalimat yang
meluncur dari mulut Romeo terasa seperti mesiu yang bisa dengan mudah membuat
ledakan.
Romeo
menarik nafas panjang. “Juno bicara terbata-bata. Tidak bisa lancar.”
Jantung
Nina terasa ditekan. Paru-parunya sesak. Ia menarik nafas sejenak.
“Nin,
you okay?” Romeo memegang pipi yang
kini seluruhnya sudah basah karena air mata itu.
“I’m okay. Kamu bisa lanjutkan, Rom. Juno
bilang apa?” tanya Nina di dalam sela tangisannya.
“Juno
cuma bilang beberapa kata. Waktu itu aku dengar, ‘Rom, Nina okay? Jaga Nina. Ini rahasia’. Itu yang
Juno bilang.” Kata Romeo.
“Cuma
itu?” tanya Nina.
“Cuma
itu, Nin. Awalnya aku bingung. Dulu Juno sering cerita tentang kamu. Aku tahu
Nina itu pacarnya Juno. Akhirnya dari kertas dan telepon Juno itu aku tahu,
Juno menitipkan pacarnya. Menitipkan kamu, Nin.” Jelas Romeo.
Romeo
menatap mata Nina. “Setelah itu aku sering lihat perempuan dengan bingkai
kacamata hitam lewat di depan rumahku. Duduk di bangku di bawah pohon ceri.”
“Romeo,
aku minta maaf.” Kata Nina sambil terisak.
“Jangan
nangis, Nina.” Romeo tersenyum. Memegang kedua pipi Nina dan menghapus air mata
yang tertinggal di sana.
“Waktu
kamu duduk di bangku itu, rasanya pengen aku temenin. Cuma agak aneh kalo
tiba-tiba aku duduk di sebelah kamu. Terus kita kenalan. Akhirnya aku tahu
kampus kamu ikut acara penggalangan dana di Bundaran HI itu. Aku panitianya.
Kamu juga ternyata jadi perwakilan kampus. Dan aku kenal kamu di sana. Kita
memulai semuanya di sana…”
“…tadinya
aku kira kita cuma sahabatan. Tapi perasaan ini enggak bisa diprediksi, Nin. Aku
sayang kamu lebih dari itu. Dan sehari sebelum aku nembak kamu di depan
Marygold Clock, Juno telepon aku. Dia masih terbata. Katanya, ‘Jadi pacar Nina.
Aku mohon’. Dan aku lakukan permohonannya, tanpa dipaksa, tanpa terpaksa.”
Ungkap Romeo.
Nina
menatap mata Romeo. “Aku pikir, suatu saat kamu memang harus tahu perasaanku,
Rom. Tapi, ternyata kamu sudah lebih tahu sejak awal.”
“Enggak masalah,
Nin. Aku enggak akan maksa, karena aku pun enggak dipaksa. Meski kamu enggak
bisa tinggal di sini,” Romeo menunjuk dadanya.
Nina tersenyum. “Kamu
tahu segalanya, Rom. Percuma selama ini aku sembunyikan.”
Romeo ikut
tersenyum.
“Aku
berharap masih bisa bertemu Juno.” Sahut Nina pelan.
“Aku
juga, Nin.” Kata Nino.
Nina
bangkit dari tempat duduknya, “Aku mau pulang, Rom.”
“Aku
antar. Biar mobil kamu nanti aku yang ambil. Di Ratu Plaza, kan?” kata Romeo.
Nina
mengangguk. Ia pasrah.
Setelah
Romeo meminta bill dan membayar
pesanannya. Ia membawa Nina keluar. Berjalan menuju pelataran parkir. Kemudian
mengantar Nina pulang ke rumahnya.
***
Kamar
tidurnya masih dingin. Pagi ini Nina sedikit tenang. Semalam Romeo meninggalkan
kecupan di dahinya dan ucapan selamat tidur untuknya. Nina tahu, melupakan Juno
adalah suatu keharusan. Ia sudah memiliki Romeo yang mencintainya. Tapi hatinya
masih tertinggal di sana. Di penjara kenangan-kenangan bersama Juno.
Apalagi
setelah dirinya tahu Juno masih ada dan masih mengingatnya. Meski Juno tidak
benar-benar menghubunginya. Juno mengirim Romeo untuknya. Nina percaya Juno
masih ingin menjaganya. Memberikan senyuman-senyuman setiap harinya.
Kakinya
beranjak menuju meja belajar. Nina membuka laptopnya. Ia menatap layar laptop. Mencari
daftar e-mail yang masuk di inbox. Ingatannya kembali pada
tahun-tahun ketika ia dan Juno rajin bertukar cerita melalui e-mail. Menelepon jika memungkinkan.
Nina
menangis. Pandangannya sedikit kabur. Ia melepas kacamatanya dan menghapus air
mata. Setelah membulatkan tekad Nina memberanikan diri membaca ulang barisan
kata-kata yang ditulis Juno setiap weekend.
Sabtu,
15 September 2012
From : Elenina Tara
To : Junior Andrian
Subject :
Kangen
Juno, minggu ini aku mulai masuk kuliah.
Seru banget, No. Aku ketemu sama temen-temen baru. Ada beberapa, sih, temen SMA
kita yang satu kampus sama aku. Aku masih suka ke Plaza Senayan sendirian. Oh
ya, sekarang aku udah boleh bawa mobil sendiri. Tapi, percuma bawa mobil di
sepanjang Sudirman, capek sama macet. Lebih enak jalan kaki. Naik Transjakarta,
turun di halte GBK, terus dengerin pemain biola di sana. Habis itu kita jalan
ke Plaza Senayan. Jadi kangen kamu, No.
Kamu gimana di Malang? Jangan lupa
makan, ya. Istirahat yang cukup. Jangan keseringan jajan sembarangan. Nanti
kalau kamu sakit di sana, gimana?
Minggu,
16 September 2012
From : Junior Andrian
To : Elenina Tara
Subject :
Re: Kangen
Aku juga mau jalan sama kamu lagi. Di
sini enggak ada Marygold. Adanya kota wisata batu, banyak lampionnya, kamu
pasti suka. Di sini aku bisa lihat gunung, enggak kayak di Jakarta. Ketutup
gedung. Nanti aku bawa kamu ke sini, ya?
Aku sehat, Nin. Kamu juga harus jaga
kesehatan. Iya, bawel deh. Lagian gampang aja, sih. Kalo aku sakit kan kamu
dokternya. Nina si calon dokter. Aku kangen kamu!
Nina
membuka e-mail lainnya, kemudian
membacanya lagi. Ia merindukan Juno. Pagi
ini di dalam kamarnya, Nina terisak. Menangisi kenangannya dengan Juno.
Tiba-tiba
pintu kamarnya diketuk. Nina cepat-cepat menghapus air matanya. Lalu membukakan
pintu.
“Kenapa,
Ma?” Nina melihat Mamanya berdiri di depan kamarnya.
“Ada
telepon, Nin. Dari Amerika.” Jawab Mama Nina.
Jantung
Nina berhenti sejenak. Ia cepat-cepat berlari menuruni tangga. Lalu meraih
gagang telepon di ruang keluarganya.
“Bisa
bicara dengan Elenina Tara?” tanya seseorang diujung telepon.
“Ya,
saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?”
“Saya
kakak Junior. Ada berita tentang dia yang harus kamu tahu. Makanya saya telepon
kamu, ini permintaan Junior.”
“Junior?”
Nina merenyit. “Juno?” tanyanya memastikan. Perasaannya sudah bercampur-campur.
“Iya.”
“Ada
apa dengan Juno?” tanya Nina. Sedikit tercekat.
“Semalam
Junior bunuh diri. Kami sekeluarga tidak tahu apa sebabnya. Tapi selama ini
Junior sudah terlalu depresi. Mungkin kamu bingung, banyak hal yang kamu enggak
tahu. Junior menitipkan surat untuk kamu, Elenina.”
Nina
tercekat. Kalimat-kalimat tadi ditelannya bulat-bulat. Membuat dadanya sesak.
Matanya sudah dipenuhi cairan hangat. Nina menangis.
“Junior
dikebumikan di Indonesia. Mungkin besok baru sampai. Junior dibawa ke rumah
neneknya di Tebet. Kamu tahu?”
“T-tahu.”
Jawab Nina. Suaranya bergetar hebat.
Setelah
itu sambungan telepon terputus. Nina terduduk di bawah meja telepon. Kemudian mamanya
memeluknya. Tidak bertanya apa pun dan membawa Nina ke kamar.
Nina
menangis. Tidak berhenti.
Romeo
datang. Masuk ke dalam kamar. Nina masih ada di depan laptopnya. Memandangi
layar berisi barisan pesan-pesan dari Juno itu.
“Nin,
kamu pasti sudah tahu.” Romeo menghampiri Nina.
Nina
tidak menjawab.
“Besok
kita ke rumah nenek Juno. Kita lihat Juno lagi, Nin.” Kata Romeo. Suaranya
bergetar.
Nina
terisak. Mulai menangis meraung-raung. Romeo segera memeluk gadis itu. Nina
tidak berontak. Nina meluapkan segalanya dalam pelukan Romeo. Sampai ia
kelelahan.
Romeo
mengecup dahi Nina dan membiarkan gadis itu menyendiri lagi.
“Aku
sayang kamu, Nin. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, ya.”
***
21 Maret 2016
Nina, maafin aku ya. Aku bikin kamu kecewa. Aku enggak
bisa tepatin janji. Aku enggak bisa pulang ke Jakarta. Aku tahu kamu nunggu aku
di sana. Selama ini aku juga bingung apa yang terjadi sama kehidupan aku.
Aku enggak bisa cerita apa ke kamu. Kadang-kadang
aku enggak ingat apa pun. Aku juga heran kenapa aku harus tinggal di Amerika.
Aku pergi jauh banget, ya? Aku minta maaf, Nin.
Malam ini dingin. Aku ingat kamu. Aku ingat senyuman
kamu yang manis. Kamu yang suka ngambek. Kamu yang suka tertawa.
Kamu pasti aman di Jakarta. Jaga kenangan-kenangan
kita, ya. Kamu harus bahagia. Romeo ada di sana, kan?
Aku mau pamit, Nin. Aku mau pergi jauh. Ada yang
nunggu aku di gunung itu.
Jangan tunggu aku lagi, ya. Aku sayang Elenina Tara.
Junior Andrian.
Nina
melipat surat itu. Surat terakhir dari Juno. Nina sudah melihat Juno lagi. Dan
ini benar-benar untuk yang terakhir kalinya. Penantiannya selesai. Juno sudah
kembali. Tapi Juno pergi lagi. Untuk selamanya.
Nina
menangis, tapi tersenyum di sela-sela tangisannya.
“Aku
sayang kamu, Juno.”
Romeo
memeluk bahu Nina. “Semoga Juno tenang di alam sana.”
***
0 comments:
Post a Comment